Rabu, 13 April 2011

HITAM PUTIH

Putih, bersih, suci.
Gaun pengantin putih itu tergeletak diranjangku. Menerorku dengan kesuciannya.
Aku tak pantas memakainya. Bukan aku. Bukan orang orang hitam sepertiku. Karena warna yang tercipta akan sangat kontras, tak pantas.  Bagaimana mungkin dia, sang malaikat yang menguarkan aura putih itu memintaku mengenakan gaun yang hanya pantas dipakai oleh bidadari saja. Padahal hitamku jelas terlukis. Ia tahu.
“aku pahami jalan hidupmu sebagai garis takdir. Hitam itu hanya warna. Izinkan aku berusaha mengembalikan dirimu kembali bidadari, putih meski sedikit demi sedikit…”
Itu yang dikatakannya, mengapa tekadnya begitu kuat? Tak takutkah ia jika putihnya ternoda? Dia tak kan mendapatkan apapun dariku selain rasa kecewa. Bahkan mungkin… kehancuran.
Aku membuka sedikit pintu kamar, mengintip kesibukan dari celah pintu. Orang orang lalu lalang mempersiapkan pernikahanku. Ohh…pernikahanku tinggal menunggu hitungan jam saja. Bagaimana ini?
Pintu kamarku diketuk. Ibu masuk dan menatapku dalam dalam.
“jangan khawatirkan apapun. Bukankah dia telah menerimamu apa adanya? Dia tahu semua tentangmu dan jika ia masih ingin menikahimu, itu adalah karunia dari Allah. Hadiah atas pertobatanmu..”
ibu mengelus kepalaku pelan. Penuh sayang. Namun sedetikpun aku tak berani menatap mata beningnya. Bu, semoga tidak kau lihat luka yang masih harus kusembunyikan. Luka yang menggores hampir seluruh tubuh hitamku. Tak mungkin kubuka karena itu akan membuatmu berduka.
“tidurlah. Besok pagi pagi kau harus sudah bangun. Lihat, gaun itu menantimu…”
Ia tersenyum sambil menunjuk gaun putih itu. hatiku berdesir.
Putih.
Ohh… betapa takutnya aku akan warna itu. karena ia ‘musuhku’
Ibu berlalu, menutup pintu kamar, meninggalkanku dalam senyap. Kamar ini, esok akan menjadi kamar pengantin. Nuansa putih - ohh…lagi lagi putih – yang mendominasi dekorasi membuatku mulai gemetar.
Aku menerima pinangan laki laki itu karena tahu betapa ingin Ibu melihatku menikah. Laki laki putih itu, mungkin adalah pilihan terbaik bagi gadis manapun. Kecuali aku. Aku tak kuasa menolak saat melihat mata ibu yang memohon. Padahal hatiku gamang. Ia putih. Aku hitam. Bagaimana mungkin bisa disatukan?
Dan kini, aku berada dipersimpangan. Masih ada beberapa jam lagi untuk membuat keputusan. Menikahinya berarti menghancurkan hidupnya. Membatalkan pernikahan sama saja mnghancurkan hati Ibu. Mana yang harus kupilih?
Aku memejamkan mata. Namun siluet itu kembali membayang. Obat obatan laknat, jarum suntik, tes darah..
HIV
Aku tersentak. Bagaimana mungkin aku melakukan ini? Bagaiamana mungkin aku menodainya putihnya dengan hitamku? membiarkannya berubah warna menjadi kelabu. Warna yang suram, tak hidup, tak enak dipandang mata. Bahkan bagiku ia bukan warna.
Dan jika nantinya ia menyiramiku, berarti tunas yang akan tumbuhpun semua akan kelabu, layu…
Itu tak boleh terjadi…
Dan sejam kemudian, disinilah aku. Mengemas gerimis sendiri. Mencoba berdamai dengan hati. Tak kan kubiarkan putih malaikat itu ternoda oleh hitamku.
Ibu, maafkan aku. Kuharap, suatu saat nanti kau akan tahu dengan caramu. Kau pasti mengerti.

»»  READMORE...

SENYUM YANG MEMERAH

Oleh Yazmin Aisyah


“permisi…!!”
Jrengg…!!
“maaf ya…!! “ sebuah suara berteriak dari dalam rumah.
Aku menghela nafas lelah, lalu menyeret kakiku yang mulai pegal. Terlalu banyak penolakan, bahkan sebelum aku sempat memetik senar pertama, suara suara ketus sudah mengusirku. Sudah setengah harian aku berkeliling complex perumahan  ini, tapi yang kudapat tak lebih dari enam lembar seribuan dan lima koin limaratusan. Delapan ribu lima ratus. Apa yang bisa kudapat dengan uang itu? mana mungkin cukup menyumpal empat mulut yang menantiku dirumah.
Sebuah gerbang terbuka menarik perhatianku. Sebenarnya, tubuhku sudah sangat lemah. Sejak pagi, hanya segelas teh tawar dan sepotong singkong rebus sebagai pengganjal perut. Namun ketika wajah istri dan ketiga anakku membayang, semangatku kembali menyala.
“permisi…!!”
Tak ada sahutan. Aku gembira, mungkin penghuni rumah ini bersedia mendengarkan suaraku.
Dari pintu ke pintu ku coba tawarkan nama, demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya…
Lagu ini meyayat hati. Lagu milik penyanyi kesayanganku, Ebiet G.Ade. Namun, sampai selesai ku nyanyikan, tak ada suara apapun dari dalam rumah, juga tak seorangpun muncul untuk melemparkan uang. Ah, sesungguhnya aku malu setiap kali menerima uang bak pengemis, tapi mencari pekerjaan di kota seramai ini bukan hal mudah.
Lagu kedua kunyanyikan. Masih milik Ebiet G. Ade, Camelia. Namun sebelum selesai, mataku menangkap sebentuk barang di atas meja tamu. Sebuah handphone yang kelihatannya mahal.
kalau kuambil saja barang itu, aku tak perlu mengamen lagi beberapa hari. Entah darimana datangnya, fikiran kotor itu menyelinap dibenakku. Beranikah? Aku celingukan, tapi rumah besar ini benar benar senyap. Bahkan sekedar suara televisipun tak terdengar.
Ragu ragu, aku melangkah melewati ambang pintu. Wajah anak istriku membayang. Perut mereka yang lapar, wajah wajah tak berdosa yang selalu berhias senyum tulus. Tiba tiba aku tersadar. Allah, jika kuberi mereka makanan haram, bagaimana aku menjawab pertanyaanMu di Yaumil Akhir kelak?
Aku mengusap peluh yang membanjiri kening sambil beristigfar. Gegas, aku melangkah keluar pagar, tak peduli pada benda mungil yang tergeletak pasrah di atas meja seakan menggodaku.
“maliiiiiiinnggg…!!”
Tiba tiba, entah darimana datangnya, teriakan dan suara derap langkah puluhan manusia sudah berada di dekatku. Aku kaget, dan lebih kaget lagi ketika lelaki pertama yang sampai ketempat ini langsung menghampiriku, sementara di belakangnya tampak puluhan orang mengejar. Tanpa berkata sepatahpun lelaki itu menjejalkan sebuah bungkusan ketanganku, lalu berlari dan menghilang diujung jalan.
Derap kaki itu kian mendekat..
“itu dia malingnya!!”
Aku bengong
“hajaarrr…!!”
Bag bug bag bug…!!
Wajah anak istriku membayang, tersenyum. Namun semakin lama, senyumnya makin merah, lalu hitam.

Bandar Lampung, 11 januari 2010
The story ‘about the tragic people  often happens
»»  READMORE...

Selasa, 12 April 2011

(Bukan) Karena Kau Cantik

(bukan) KARENA KAU CANTIK
Oleh Yazmin Aisyah

“kau begitu sempurna Vi, bagaimana mungkin ada lelaki yang menolak dijodohkan denganmu?”

“nyatanya dia menolakku Ra. Katanya aku terlalu cantik”

Aku terdiam. Aneh sekali. Apakah cantik itu salah? Diluar sana ratusan gadis melakukan berbagai perawatan, berlomba lomba ke salon dan spa bahkan operasi plastik hanya untuk satu tujuan. Cantik. Bukankah gadis cantik itu dambaan setiap lelaki? Kalau lelaki itu dijodohkan denganku, pantaslah dia menolak, karena aku…

“padahal aku sungguh sungguh menginginkannya Ra. Dia memiliki semua yang dinginkan perempuan untuk jadi suami. Mapan, sholeh, ah… aku sungguh menginginkannya…”

“tenanglah Vi, akan datang jodohmu kelak. Pada saat yang sudah Dia atur dan insyaallah jauh lebih baik darinya…”
Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku.

“entahlah…” suara itu melamun, “entah apakah aku masih punya muka datang ke kantor. Seisi kantor sudah tahu kalau orangtua kita dan orangtuanya sudah menjodohkan aku dengan dia sejak kecil, tapi dia…” Vina berhenti sejenak, “ menolak…”



Percakapan itu masih bergaung di otakku. Vina hanya setahun lebih tua dariku. Ia cantik. Garis garis wajahnya begitu sempurna. Hidung bangir, mata bulat dan alis tebal yang menaunginya, juga dagu membelah yang pasti sangat sedap dipandang mata. Jemariku pernah merabanya, sekaligus memastikan betapa halus kulit wajah itu. belum terhitung tubuhnya yang tinggi semampai, suara halus yang tak pernah berkata kasar. Sebagai wanita, aku yakin dia nyaris sempurna. Sungguh tak masuk akal ada lelaki yang menolak dijodohkan dengannya.

“mau apalagi kamu datang? kamu sudah mempermalukan putri saya…”

Sayup sayup aku mendengar suara Ayah datang dari ruang tamu.

“saya minta maaf pak, tapi saya punya alasan menolak dijodohkan dengan Vina…”

Oh, lelaki itu yang datang. Mau apa dia? Aku menajamkan pendengaran. Menguping sungguh bukan tindakan terpuji, tapi aku harus tahu apa yang membuat lelaki itu menolak kakakku.

“sudah sudah… saya tidak butuh alasanmu. Sebaiknya kamu segera pergi sebelum kesabaran saya habis…”

“tapi saya kesini untuk melamar putri bapak…”

“apa maksudmu? Kamu sudah menolaknya! Jangan mempermainkan keluarga kami…”

Suara Ayah berang. Aku juga ikut gusar, bahkan nyaris berlari keruang tamu. Sudut hatiku masih berbisik, hati hati Ra, jangan sampai kau jatuh

“bukan Vina…”

“lalu?”

“Fara…”

Langkahku terhenti. Kenapa dia menyebut namaku?
“saya ingin melamar Fara…”

Aku tertegun. Didepan sana, Ayah mungkin lebih kaget daripada aku, tersirat dari suaranya yang tiba tiba hilang.

“saya menginginkan calon istri yang masih suci hati dan penglihatannya, terlindung dari noda dunia, dan itu, maaf, bukan Vina. Tapi Fara, justru karena ia tak bisa melihat…”

Bandar Lampung, 7 januari 2011
»»  READMORE...

Bunga Untuk Valentine

BUNGA UNTUK VALENTINE
Oleh Yazmin Aisyah

“Aku tidak suka kau begini Val! Kau jadi terlihat aneh, primitif!”

Gadis itu menatapku sejenak, lalu membuang pandang ke pohon - pohon pinus yang berjejer rapi di seberang halaman rumah.

“Maaf Tim, this is my choice. Terserah kau suka atau tidak.”

Suaranya sehalus beledu. Tapi itu justru membuatku makin marah. Keseluruhan penampilannya membuat emosiku kian memuncak. Baju panjang tanpa model dan kain lebar yang menutupi rambut coklatnya yang ikal dan indah. Val lebih mirip ibu – ibu bangsa barbar itu daripada gadis Amerika berusia 19 tahun.

“Setan apa yang merasuki dirimu Val? Bukankah dulu kau sangat membenci semua tentang islam?”

“Allah telah membuka pintu hidayah untukku Tim. Tangan-Nya begitu lembut menuntunku masuk dalam pelukan-Nya”

Shit! Sungguh tidak masuk akal. Val, gadis yang kucintai setengah mati, kini membelot dan menyudahi hubungan kami hanya karena ia muslim kini. Padahal telah begitu banyak waktu kami habiskan bersama.

“Dan satu lagi Tim, aku tidak bisa ikut merayakan valentine bersamamu besok”

“Ada yang lain?” tanyaku curiga.

Val menggeleng dan tersenyum tipis, “Tidak. Hanya saja itu tidak ada dalam ajaran agamaku sekarang.”

Prang!

Val tersentak, sontak ia bangkit dari kursi yang didudukinya. Wajahnya pucat. Aku tak peduli pecahan gelas yang kubanting tadi mencelat kemana – mana, salah satunya mengenai pergelangan tangannya, menciptakan segaris luka yang memercikkan darah.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau tetap pacarku dan besok kita tetap merayakan valentine bersama. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Dan ingat, jangan gunakan kain jelek itu!”

Val berdiri dengan kaki gemetar. Matanya berkaca – kaca. Aku pasti telah membuatnya takut. Ini pertama kali aku berlaku kasar padanya.

“Dan ingat Val, malam – malam yang telah kita habiskan bersama. Kau fikir Tuhanmu itu akan mengampunimu?” aku tersenyum mengejek.
***

Maafkan aku Tim, aku tetap tidak bisa. Aku berusaha taat dan mengikuti agama yang kupilih meski harus belajar dari awal, merangkak dan tertatih. Sesungguhnya, betapa ingin aku menjalani semua bersamamu, tapi agamaku tak pernah memaksa umat lain untuk ikut pada ajarannya.
Dan please, namaku kini Aisyah, bukan Valentine lagi. Dan aku pun tak kan pernah lagi merayakannya, sebagaimana agamaku mengajari untuk tidak ikut perayaan umat lain.


Aku meremas kertas itu gusar. Rangkaian bunga chrysant, rose dan jasmine yang kubawa untuknya kubanting ke lantai dengan sepenuh emosi. Val tak kutemui di rumahnya. Cuma ada sepi menyambutku bersama surat yang ia tinggalkan di atas meja tamu. Val, Aisyah…! Persetan! Aku harus mencarinya dan memaksanya merayakan valentine bersama. Apa kata teman – teman jika tahu kami berpisah setelah mereka tahu selama ini kami begitu serasi? Dan februari tanpa valentine? Jangan harap Val…

Ciiiitttt… prang!

Porche kuning terang itu melarikan diri setelah membuat tubuhku melayang sekian meter. Ada cairan amis dan lengket meleleh dari pelipis. Pandangan mataku mulai kabur, namun masih sempat kulihat sesosok tubuh semampai berlari mendapatiku.

“Timothy, bertahanlah! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!"

Ada air menetesi wajahku. Airmatanya kah? Apakah itu berarti dia masih mencintaiku? Tapi mengapa ia tak mau merayakan valentine bersamaku lagi?

Valentine, Aisyah, siapapun namamu kini, yakinkan aku mengapa islam tak merayakan valentine, maka aku takkan memaksamu melakukannya lagi.


499 kata tidak termasuk judul dan nama penulis
Bandar Lampung, 08 februari 2011
Say no to valentine yuk!
»»  READMORE...

Update Final Peserta Audisi Cerpen "PERNIKAHAN DINI"

Alhamdulillah, event kita selesai juga. setelah berkutat dengan komputer berabad2 lamanya (lebay, hehehe...) akhirnya saya bisa publish update terakhir peserta.
dengan berat hati panitia terpaksa men-diskualifikasi beberapa peserta yang mengirim naskah lewat dari jam 21.00 (di lihat dr komputer panitia yg Insyaallah jarumnya berputar dengan benar) dan juga peserta yang mengirim naskah di badan email. ini sebagai penghargaan kami pada teman2 yg telah tepat waktu dan memenuhi persyaratan. juga sebagai pembelajaran bagi kita semua.

so, inilah daftar para peserta yang akan 'bertarung' di panggung pelaminan Dini...

1.   Pelaminan Satu Tujuh - Nisa Nuraeni
2.   Bapak, Bolehkah Ku menikahi Anakmu? - Aida M Affandi
3.   Pernikahanku yang Dini - Nisrina Lubis
4.   Ainun Mardiah - Syaque Hikari
5.   Petikan Bunga - Gadoell Asik
6.   Gerobak Cinta - Yurmawita Adismal
7.   Masjid Biru - Umystha Fasuruqa
8.   Gadis Itu, Tigapuluh Tahun - Rizky Ramadhan
9.   Denyar Cinta - Usup Supriaydi
10. Bukan Ilalang Jadi Saksi Cintaku - Levina Nyt Siwallete
11. Pernikahanku Dini - Ratnawati Muhammad
12. Kutukan Adat - Setiawan Chogah
13. Ternyata Ini Yang Ku inginkan _Yayu Destiani Puteri Dadang
14. Tamu Yang Datang Malam - Dedi Supendra
15. Kumandang Cinta Sang Pemanah - Jenalerevolusi
16. Kulihat Mentari Di matamu, Dik - Willyou Putra Sinar
17. Flyover Rhapsody - Skylaster Maryam
18. Aku, Kinanti Dan Masa lalu itu - Renny Rusniawati
19. Kugendong Anakku Dibangku Kuliah - Farida M.Rokhmah
20. Akhirnya kutemukan Pelangiku - Tika Artiwi
21. Hati Wanita Bermata Mutiara - Yadhi Rusmiadi Jashar
22. Perjodohan Kontrak - Ally Jane Parker
23. Ketika Waktu Bukan Lagi Penghalang - Rialitha sukma priha
24. Eci Mau Nikah Muda - Muthiah Rizki Dewi
25. Jangan Takut Bagas! - Imam Sonhaji
26. Nikahi Aku - Lilyani
27. Because Of You - Ranie Uverchan
28. Warna Warni Pelangi Cinta - Agustini Suciningtias
29. Takdir Dini - Andi Sri Suriati Amal
30. Kado Terindah - Muji Sasmito
31. Kesan PErtama pada Tausiah - Istiqomah Aulia
32. Buku Bersejarah Itu - Selly Kania
33. Satu Minggu Najwa - Alfa Verdorben
34. Sebuah Keputusan - Niken Prawesthi
35. Berdua Melukis Mimpi - Weni Wahyuni
36. Kekuatan Cinta - Willy Wilimarz
37. Sepenggal Kenangan - Nessa Kartika
38. Aib Sandungan Si Bungsu - Abdul Azis
39. Jilbab Merah Ayunda - Argha Verdorben
40. Berkah Menikah Muda - Rizky Dwi Ami
41. Dia Bukan Tipeku tapi Bidadariku - Jantriwanis Sudra
42. Bidadari Sunyi - Desri Susilawani
43. Tuhan, Izinkan Kami Melihat Surga - Nuyuii Selalu
44. Ketika Cinta Dipertanyakan - Hilda Fadhila Sinaga
45. Sepenggal Kisah Dalam Hidupmu - Arief Budiman Tjokrowartono
46. Surat Tak Sampai Suratan Takdir - Luthfi Ibnu Hasan
47. Sebuah Pelukan Untuk Tyas - Edwin Yulisar
48. Topeng - Akhsane Taqween
49. Serpihan Cinta - Indah T.Pradita
50. Nikmat Allah Mana Yang Engkau Dustakan? - Mariana Nana Khoirin
51. Kisah Ella - Faujiah Lingga
52. Aku dan Kamu  (Harapan Yang Terwujud) - Annisa Valentina
53. Mount In Love - Karina Ai Chan Kurnia
54. Sebening Embun Seindah Senja - Athyra Souhara
55. Permintaanmu Dulu, Restumu Kini - Nata Salama
56. Mempelai Putih - El Eyra
57. Ikhlas Itu Indah - Akhwatul Chomsiyah Firdausa
58. Wajah Surga - Modemoisell Rasyah
59. Aku Akan Menunggu - Etika Indra Khusna
60. Kita Dan Rahasiamu Sobat - Angger Minerva
61. TK-Tes Kesiapan - Hesti Daisy
62. Pilihan Hidup - Ramlah Rattang
63. Aku, Kamu dan Islam - Dhila Ummul Fadhilah
64. Sahabatku Tercinta, Lana - Qurotta Ayunin
65. Petuah Dan Cinta Amak - Assyafah Nafira
66. Hati Untuk Amir - Zami Kawulo Enggal
67. Pendidikan atau Pernikahan - Vinho Fransesca
68. Usia 19 tahun aku Meraih Ridho-Nya - Tya Marty
69. Ia Tak Salah - Yusnita Fbs
70. Ternyata Aku - Asni Januarti
71. Kekuatan Cinta Pernikahan Dini - Fithri Yatul Humairo
72. Dia, Sahabatku! - Hidayatul Sya'diah
73. Sebuah Nazar - Nih'Nurul Sebatangkara
74. Berawal Dari pertemuan Di Senja Hari - Fithri Nur Millah
75. Kisah dan Pewlajaran Untukku - Minhyan-ssi
76. Hitam - Rafif Amir Ahnaf
77. Dini Cuma Mimpi - Ibnu Setyawan
78. Runtunya Sebuah Ego - Rosi Meilani
79. Aku belajar ikhlas karena Ayah Bunda - Adnanda Findika
80. Mendadak Nikah - Ayka Noura
81. Cinta Itu Melamarku - Lina Lidya
82. Bukan Karena Tali Merah - Asti Wijaya
83. Mahar Suciku Lima Puisi - Syarif Hidayatullah
84. Menepi, Menanti pinangan - Midun alyasyah
85. Ketulusanmu, meluluhkanku - Iliana Loelianto
86. Pria berjiwa besar - Wicha Speecha Breeze
87. Petuah yang tak berlaku - Momo Mimi
88. Cintaku di ujung jalan - Neng Mimi
89. Kinanti namaku - Ismi disinii
90. Kawin Muda - Sumarno Wec
91. Be Married, siapa takut? - Yanti Nurohmayanti
92. Sebuah Perjalanan Panjang - Pritha Khalida
93. Cahaya Cinta - Tris Anova Arlim
94. Watini, Wanita tiga zaman - Ika Yunnie
95. Gerimis Cinta Faizah - Ukhti Shine Naziku
96. Pernikahan Ini Untuk Ibuku - Lisna Ajjh
97. Akhir Dari Pernikahan Dini - Leni Afriani Rahayu
98. Beri Ia Nama Tegar Ginanjar - Alfian Amiul Hanif
99. Teddy Bear Untuk Nisa - Syifa Azmy Khoirunnisa
100. Marina, Kamboja Itu Indah - Endang Ssn
101. Istana Kecil Kita - Anna Oktaviana
102. Denting-Denting Bisikan Hati - Wanda Kaniawati
103. Berpendar - Kurniasih Bahagiati
104. Pinangan Mas Radit - Meita Yunita
105. Nadia, sahabatku, istriku - Dwi Giriyono
106. Goresan Pena Cinta Pernikahanku - Sheila Fitriasari
107. Cintaku Cintamu dan CintaNya - Tari Ayankna Haris
108. Mahar - Syari Vaqoth
109. Katakan Ya - Neraca Hati
110. Kau Berhak Bahagia Dini - Cahaya Hati
111. Lumina Menjadi Cahaya - Aini Zahra
112. Aku Ingtin Ganti Status - Dhina Bunda Haura
113. Gara-gara Getuk Lindri - Rahdan Syafi'i
114. Would You Marry Me? - Febriyana Puspa
115. Abi, Izinkan Putrimu Ini menikah - Fitri Bundanya Elfad
116. Cinta sucimu untukku - Aulia Rachma
117. Menanti Pernikahan kEtujuh - Itsuki Nurmani
118. Malaikat Dalam Hatimu - Mardiana Ntx
119. Rental Al-fajar Mengawali Kehidupan Kami - Bunda Mala
120. Mbakku, Emakku - Lina Li
121. Mas, Siapa Wanita Itu? - Moh. Maman Saifurrohman
122. Diary Cinta Naya - Wulan Purnamasari
123. Let's Get Married - Ika Hima
124. Berlayar Dari Ambarawa Ke Tanggerang - Stephanie Fitrah
125. Selimut Cinat Untuk Dian - Suparno Hasta
126. Atas Nama Cinta - Arfin Murtie
127. Dua Sudut Hati - Siti Zaleha
128. Surat Bergambar Pengantin Dini - Lara Ahmad
129. Restu Ayah - Elly Nurlaili
130. Bukan Dilema - Susilowati
131. Saat Hujan Turun - Oci Ym
132. Meniti Biru - Halwa R Balqis
133. Nikah Cepat, Lulus Cepat - Reza Irwansyah
134. Lukisan Senja Di tengah Rinai Hujan - Sunny Qu
135. Pendar- pendar Cahaya - Bening Lazuardi
136. Young Married - Sofa Mrzchibyl
137. Istana Cinta Di Negeri Sakura - Aini Nur Latifah
138. Kejutan Dari Kanaya - Allina Shita
139. Sebenar-benarnya layak - Liliek Soedirman
140. Cincin Kawin - Happy Rose
141. Manisnya Coklat Pernikahan - Sylvia Dyah
142. Menikah Karena-Nya - Sri Wahyuti
143. Cinta Dalam Pernikahan - Intan HS
144. Balas Jasa Dengan Menikah Sebagai Solusinya - Opik Hidayat
145. Matahari Cinta - Novie Ajje
146. Sepucuk Surat Linda - Hypoglassus Juni Hurairah
147. Selamat Datang Cinta - Ratna Dwi Kumalasari
148. Nikah Dini? Enjoy Aja - Eka Nur Susanti
149. Biarkan Aku Menikah - Dian Yuan Andari
150. Pernikahan Dini dan Mimpi-Mimpi - Astuti J. Sjahban
151. Bingkai Cinta - Abi Sabila
152. Insyaallah, Aku Siap - Yulina Trihaningsih
153. Di Penghujung Penantian - Siti Baroroh Barit
154. Never Imagined - Khalifah Ethy
155. Lantai 17 Pinisi - Wawan Kurniawan
156. Jalan Tuhan - Chinta Syahreza
157. Maret Di Langit Malamku - Moetimoet Whae
158. Surat Untuk Bidadari Kecilku - Resti Nurfaidah
159. Ijinkan Aku Menikah - Khusnul Khotimah
160. Lebah Tidak Melukai Bunganya - Iis Melyasti Az-Zahra
161. Akhir Penyesalanku - Indah Puspitasari
162. Malam Di Penghujung Tahun - Uut Utami
163. Biarkan Aku Menikah - kinoy Raomi
164. Merengkuh Cinta Dalam Muda- Adel Gigih
165. Maafkan Aku Dewi, Pipit Cupritzz
166. Ayu, Aku mencintaimu - witrie rahardjo
167. Landci - Andinta Aristika
168. Buah hati menyatukan kita - go minam anisah
169. jawaban pinanganmu - Mieny Angel
170. Bunda, izinkanlah aku meminangnya - srikandi anisah
171. karena aku seorang ibu - made filippo jaya
172. ketika sayap2 cinta mengajak untuk terbang - white putra knight
173. karena jogja - win sugiarti
174. kamila nikah muda - stepahnie deborah
175. bukan tak ingin menikah - Dyah Ayu
176. Kelam - Elka ferani
177. Tekad zahra - Hidayatul hasanah
178. Menikah karena-Mu - Vienie Ani
179. Itu hanya mitos - indah prisilla Joedo
180. Gubahan kesanihan - Alizar tanjung
181. kerja kuliah dan nikah berkah pernikahan diniku - Aus Almardiyah
182. Diam-diam aku menikahinya - novie najmi
183. Senyum nabila - Nurlaili fajriyah
184. Setelah kamu dan aku menjadi satu - Dyah Ardiayanti
185. Balada Renita di malam purnama - Hasudungan Rudy Yanto Sitohang
186. Pelangi cinta Aida - Retno pkpu
187. Lebih indah dari sebuah dongeng - Rachma indah lestari
188. Dua Raksasa - Fadila Hanum
189. Curahan Hati Menikah Muda - Miyoshi
190. Aku (belum) siap menikah muda - Visya Blue
191. Rea, Ana , Dee dan pernikahan dini - Ayarumy
192. 3600 detik - Zahra nupus
193. Lamar - Methia Farina
194. PD nggak laku - Lely noormindhawati
195. Mau dikasih makan batu? - Rissan aulia
196. Nikah dini - Najma Amania
197. Pencegahan dini - Nurlinda Indah SN
198. Ketika Lila berlalu - Indah Manggaga
199. Prasangka, tak jelas tak benar - Tiara Tya andini
200. Proposal - Mega Anindyawati
201. At beautiful moment - Anisa Agustina
202. Alya - Kurniawan Gunadi
203. Kusambut engkau dengan senyuman - Diana Agustin
204. Judhu Tabu - Asri Diana kamilin
205. Janjiku untuk anak kita - rahmat zainudin
206. Catatan cinta - Hastuti Utami
207. Janji T-Squad - Qatrinnandya
208. Sang pengantin - Pencari Ilmu
209. Sembilan belas - muhammad Hartono
210. Nikah muda? siapa takut? - Nurjannah Jaimbun
211. Lelaki itu - Mujahidah amirotun
212. Replika patung lilin - Priscilla Chincia
213. Mengharap Ridho Bapak - Ardi Kurniawan
214. Indahnya menikah dini - Beta Ria
215. Mudaku, Impianku - Indah sulistyani
216. Jangan menyerah - Riza Isnawati
217. Sebait Doa Cinta - Shitie Fatimah Maniez
218. Kau pinang aku dengan stetoskop - Ayuu feat Ayuu
219. Perempuan muda - Mey zusanna
220. Tidak terbatas usia - Thera 'chibonk'
221. Masa depanku terputus - Muhammad Shobur
222. Tersemat hati buat brondong - Ayhue RH
223. Ketka semua kuserahkan kepada-Nya - Min min rin
224. Sepercik embun kebahagiaan dalam sebuah penantian - Mahilda komalasari
225. Panggilan manis darimu - Laras kartika
226. Sad story -Rin Luna
227. Bilakah pernikahan menjadi hijrah terbaikku - Mursyidah Mesra
228. Aktivis Punya Cerita - Adisaputro Nazhar

bagi yang namanya salah-salah sedikit mohon maaf ya. nanti akan di perbaiki sampai bertemu di event selanjutnya.

Juri : Syamsa Hawa dan Dewi Hastuti

selamat berjuang!


salam
Crew CePeDe
»»  READMORE...

Senin, 11 April 2011

MALING!

Cerpen kedua yang di muat di annida online, juni 2009


MALING… !!!!



“ maling…maling…!!”
“ maling ? mana malingnya ? “
“ lha iku ? !! “
“ yang tadi lewat iku maling to pak ?!! “
“ lha iyo… kok pada bengong…!! “
“ maling opo ? “
“ ndak penting, yang penting…”
“ kejaaaar….!!!! “
Suara derap belasan kaki bergemuruh, ada yang bersandal. Tak sedikit yang karena panic dan emosi melupakan sandalnya yang bergeletakan dekat pintu rumah.
Allahhu akbar allahu akbar !!
“ maling nekad, maghrib maghib kok ya maling…!! “
“ kalo ndak nekad dia ndak bakalan jadi maling…!! “
“ Maling apa ? “
“ Besi, di penampungan rongsokan…!! “
“ masyaallah, Cuma maling besi, bisa bonyok dia kalau sempet ketangkep…!!”
“ Iyo, mbok ya kalau maling yang berharga dikit, jadi kalo ketangkep ndak malu maluin…”
“ Husyy… bu las iki ngawur…”
“ lha iyo bu kir, sayang to…? Tapi biar aja di gebukin, orang ngumpulin rongsokan susah susah, eh, dia maen ambil saja…””
“ mungkin butuh buat makan. Terlalu banyak orang miskin. Pada males kerja..”
“ sendirinya juga miskin…”
“ sampeyan juga. Wong sekampung kita Cuma  pak RT yang kaya…”
“ korupsi, bikin KTP saja limapuluh ribu. Padahal Cuma tigapuluhlima ribu. Kalau sepuluh orang sudah berapa ? “
“ eh…sudah sudah…maghrib maghrib ngerumpi. Ndak denger adzan ? “
“ kamu sendiri ? “
Cengar cengir, yang barusan menegur, perempuan bertubuh tambun.
“ lagi ‘libur’…”
“ huuuu…” serempak memonyongkan bibir, lalu masuk rumah masing masing. Bukan rumah sebenarnya, hanya petakan petakan tiga ruangan yang berdempet dempet. Sesak. kumuh
Salah satu perempuan tadi, yang dipanggil Bu Las, masuk dan mendapati Romlah, anak gadis tanggungnya sedang tidur tiduran di depan televise hitam putih empatbelas inch.
“ ealah…ni bocah. Shalat…nonton tv terus…”
“ ibu aja ndak shalat…”
“ eh, dasar anak kurang ajar, sok mau ngajarin ibu…”
“ Yee… dimana mana juga kalo mau nyuruh anak shalat ibu dulu yang shalat. Boro boro…apalagi bapak, maghrib maghrib ngilang…”
BUKK!!!
Bantal dilempar, Romlah mengelak tangkas, lalu kabur keluar. Padahal malam sudah gelap. Jalan jalan juga. Penduduk terlalu miskin untuk memasang lampu jalan. Atau pelit ? takut menghadapi tagihan listrik yang membengkak.
***
Tengah malam, suaminya pulang. Bajunya basah, badannya berpeluh, sandalnya putus.
“ ealah pak… iku sandal putus meneh, aku ndak punya duit beli yang baru…”
“ biar nanti disambung pake peniti…”
“ bapak dari mana to sampe basah basahan ? “
“ ngejer maling !”
“ dapet ? ”
“ malingnya gesit kok bune … ngilang dideket kebun… nyebur kali’ lalu naik pagar pembatas kebun ke kampung sebelah. Hilang “
“ kok bapak tahu ? “
Gelagapan,
“ eh…eh…anu… ya perkiraan aja. Pasti orang kampung sebelah yang maling…”
“ yo ndak mungkin, orang kampung sebelah ndak miskin kayak kampung kita “
“ kata siapa ? sok tahu “
“ lho…aku kan ikut kumpul kumpul pengajian, pernah diundang ke mesjid kampung itu. Umah’e apik apik …”
“ nah…nah… ikut pengajian tapi aku ndak pernah lihat bune shalat…”
Nyengir, malu malu kucing, malu maluin.
“ kalo dirumah males pak, ndak ada yang lihat. Kalo pengajian aku shalat kok…” ingat sesuatu, rautnya berubah, garang..” pak’e aja ndak shalat…”
“ lho…lho…kalo aku ya…” ragu ragu…” sibuk…!! “
“ sibuk opo ? wong pengangguran aja ngakune sibuk “ bersungut sungut, lalu membanting pintu.
“ besok ndak ada duit buat beli beras, Romlah juga bilang ndak mau sekolah lagi. Sering bolos karena ndak ada ongkos. Malu…”
“ nih…!! “
Suaminya menyorongkan dua lembar lima ribuan. Perempuan itu menggerutu panjang pendek.
“ duit segini cukup opo ? pokok’e mulai besok bapak harus ngasih aku limapuluh ribu sehari. Kalo sampe minggu depan nasibku masih ndak jelas, aku mau balik kerumah orangtuaku. Percuma ndue bojo…”
PLAKK !!
“ kurang ajar, wedus… kenapa dulu mau kawin sama aku ? aku sudah dari dulu miskin…!! “
Mengusap usap pipinya yang terkena tamparan, istrinya cemberut, lalu membanting tubuh kekasur butut dirung tengah. Diruang sebelah, yang pintunya hanya ditutup dengan selembar gorden butut, Romlah sudah mendengkur.
“ lho…lho…bu, aku iki urung mangan…”
Nggak merasa bersalah sudah menampar istrinya, buat apa ? tampar tamparan sudah jadi makanan hari hari. Apalagi kalau Cuma makian wedus, monyet, goblok…
“ sudah habis semua. Siapa suruh pulang tengah malem ? “
“ nasi tok ? “
“ndak ada !! “
“ yo wis, buatin kopi aja “
“ ndak adaaa !!! “ teriakannya kesal
Cekurukkkkk, perutnya berbunyi nyaring. Mirip kokok ayam yang mau disembelih.
***
Pagi menjelang siang, ibu ibu sudah  ngerumpi lagi. Sambil merubungi tukang sayur yang melayani dengan muka cemberut. Kesal, terlalu banyak orang ngutang. Nggak ngerti apa kalau jualan butuh modal ?
“ hebat iku maling, dikejer orang banyak ndak ketangkep  “
“ mungkin punya ilmu meringankan tubuh”
“ ngawur, jaman moderen kok ya masih ada ilmu begituan “
“ ehh…ndak percaya ? yang pesugihan aja masih ada…”
“ ayo ibu ibu…cepetan belanjanya, saya masih mau keliling…”
Tukang sayur nggak sabar. Sudah tukang ngerumpi, ngutang melulu…tapi dia selalu nggak tegaan. Yang ngutang, dikasih juga. Seperti…
“ wah ada cumi, kesukaan Romlah,  piro iki ? “
“ setengah kilo, lima belasribu…”
“ aku ambil ya pak…engg…duitnya nanti…kalo bapaknya dapet duit…”
Tukang sayur Cuma bisa pasrah. Salahnya, bawa dagangan mahal ke kumpulan ibu ibu tukang ngutang.
“ makanya ati ati naro barang, lagi musim maling “
Rupanya obrolan maling masih berlanjut
“ ada lagi yang mau belanja ? “
“ eh, pak sayur buru buru tenan…”
“ jumat bu… mau jumatan …”
“ oh iyo…yo wis, kita kan mau pengajian juga”
Tukang sayur Cuma mengelus dada. Selama itu mendengar celotehan ibu ibu, Cuma laku setengah kilo cumi, itupun di utang. Heh…
Bu Las masuk, menendang kaki suaminya yang masih mendengkur
“ poko’e nanti malam sudah harus ada duit limapuluhribu”
Suaminya tetap mendengkur, entah dengar atau tidak.
“ pak !! denger ora ? awas yo…”
Suara dengkuran makin keras. Bersaing dengan suara orang mengaji yang bertalu talu dari masjid. Sudah hampir waktunya jumatan.
***
Tengah malam, lagi lagi bangun tengah malam. Tapi kali ini bukan suaminya yang membangunkan. Tapi suara teriakan gaduh tak jauh dari rumah. Perempuan itu mloncat dari kasur, gendhuk nya mengekor sambil mengusap ngusap mata yang belekan
“ ono opo ? “
“ maling ketangkep “
Bu Kir dan Welas, janda bertubuh tambun itu sudah lebih dulu berkumpul di muka rumah.
“ maling besi lagi ? “
“ katanya ndak, kemaren wis sukses. Ya sekarang nyikat yang lebih berharga dong. Katanya TV bu RT yang baru …”
“waah… TV mahal. 21 inch, Politron lagi “
“ biar saja, dapet korupsi ini. Lagian Bu RT kan meditnya minta ampun  “
“ tapi ketangkep kok…”
“ yuk ndelok…”
Mereka beramai ramai mendekati kerumunan warga yang sudah lebih dulu tiba. Kebanyakan bapak bapak dan pemuda. Mereka membawa pentungan.
“ wah pasti bonyok “
Suara mengerang terdengar jelas. Bikin merinding. Orang orang yang gelap mata, hilang sudah rasa kasihan. Gedebak gedebuk, seperti memukul karung saja.
“ buka sarungnya !!! “
Maling itu mengenakan sarung yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya matanya yang terlihat. Mata itu pun sudah lebam.
“ susah pak…”
Ibu ibu meragsek maju. Mencari pengalaman pertama melihat maling digebuk massa. Selama ini hanya lihat di TV saja. Entah masih ada rasa iba atau tidak
“ dasar maling kurang ajar !!” suara pak RT berang,
“ kalau mau nonton TV ya beli sendiri “
“ pemalas !! “
“ cincang saja !! “
“ jangan jangan… dibawa ke kantor polosi aja !! “
“ huh, polisi. Sama aja. Disana juga di gebukin. Mending kita yang gebukin !!!“
“ setuju, nanti kalau sudah puas baru kita bawa “
“ eh, buka dulu sarungnya, siapa tahu kita kenal “
Sarung dibuka, seketika suara pekikan bersahut sahutan….
“ lho…pak’e ? “ pekik Bu Las
“ bapak !!! “ Romlah tak mau kalah
Maling itu menatap Bu Las, lalu anaknya.
“ bune…maaf…aku belum bisa ngasih duit limapuluhribu sehari. Tapi jangan pulang kerumah orangtuamu ya. Sopo sing ngurus bapak nanti ? “
Orang orang melongo.

Kedaton, 060309
The story ‘bout the tragic poor people






»»  READMORE...

APRIL

Cerpen pertama yang di muat Annida Online, April 2009


APRIL

PART ONE

Matahari mulai merayap menuju titik tertingginya. Aku mengusap peluh yang mulai membanjir di dahi. 2 bulan ternyata belum membuatku terbiasa dengan udara panas kota Lampung. Di depanku , April sudah lebih dulu tiba di depan pagar sebuah rumah tipe 36 ber cat hijau
“ masuk Ci. Ini rumah sepupuku … “ ujarnya tanpa menoleh. Kantung kantung plastic yang dibawanya tampaknya yang mendorongnya untuk bergegas. Di ruang tamu , seorang perempuan muda menggendong seorang bayi menyambut langkahnya.
“ April… ? dari mana ..?
“ dari swalayan kak. Oh ya , ni Aci temanku. Teman SMA dulu. Aku numpang ganti baju ya… “ tanpa mempedulikan aku , April mambawa tubuhnya yang tambun bersama kantung belanjanya. Lalu menghilang ke sebuah ruangan. Perempuan itu menatapku. Aku hanya bisa tersenyum. Sedikit kikuk.
“ kamu teman SMA nya ? “
“ Iya kak. Kami sudah lima tahun lho nggak ketemu”
“ kok gitu , emang kamu tinggal dimana  ? “
“Aku kerja di Puncak , Bogor. Baru dua bulan ini aku pulang kampung. Nggak nyangka bisa ketemu April. Aku jadi punya teman jalan. Soalnya teman yang lain sudah pada pindah “
“ emang dia udah nggak suka ngamuk lagi …?”
Aku kaget , ngamuk ?
“ iya … dulu kan dia sering ngamuk ,  kamu nggak tahu ?”
Tanpa di minta , perempuan itu mulai bercerita. Mungkin mengerti dengan raut kaget dan penasaran yang pasti tidak hilang dari wajahku.
” sebenarnya selulus SMA , April masih baik baik saja. Nah , ketika dia mulai kuliah di … itu lho. Sekolahnya perawat …”
“  AKPER ….? “
“ ho oh … dia di guna guna sama temannya. Perempuan juga. Katanya ….”
Kalimatnya terhenti. Dari kamar tempatnya masuk tadi . April muncul. Dia melenggokkan badannya sebentar , lalu berputar putar ala peragawati.
“ bagus nggak Ci ? “
Yang di tanyanya adalah sepotong kaus coklat tua seharga tiga puluh lima ribu rupiah yang baru saja dibayarnya di toko swalayan. Kaus itu melekat ketat ditubuhnya yang gembur , serupa dengan legging hitam yang memang tadi di pakainya. Walhasil , perutnya yang sama sekali tak langsing plus timbunan lemak di sana sini tampak jelas melekuk lekuk di balik baju ketatnya. Uh , aku mengeluh dalam hati.
***
Kejadian itu sudah seminggu berlalu. Tapi aku sama sekali tak bias melupakannya. Terlintas dalam niatku untuk mencari tahu lewat sepupunya. Tapi itupun belum sempat kulakukan.
Muti Aprillia , aku mengingatnya sebagai gadis yang periang. Meski tidak terlalu akrab , Dia adalah teman ‘seperjuanganku’ karena kami selalu satu sekolah dari SD hingga SMU , kendati beda kelas. Gaya bicaranya ceplas ceplos , apa adanya. Dan yang paling kuingat adalah , dia paling nggak suka di panggil Muti , Mut … Mut …katanya kayak semut lah , marmot lah. Dia selalu meminta di panggil April. Keren katanya. Apalagi kemudian Avril Lavigna muncul dengan “I’m with you” nya yang langsung ngetop. Mulailah April protes kalau namanya ditulis dengan huruf ‘P’.
Dan untuk pertama kalinya , setelah lima tahun , aku bertemu lagi dengannya. Waktu itu , aku sedang break dari tempatku bekerja karena sakitku yang bolak balik kambuh dan memutuskan pulang ke kota kelahiranku. Ketika membuka buka album kenangan SMA , aku bertekad akan melacak keberadaan teman teman lamaku.
Target utamaku adalah April , yang rumahnya paling dekat dan kuharap belum pindah. Tak disangka , begitu mudah aku bertemu dengannya. Tapi nyatanya semua sudah banyak berubah. Dia sekarang seorang perawat Dan telah bersuami. Saat itu dia sedang dalam masa cuti setelah melahirkan anak pertamanya. Tubuhnya yang dulu langsing kini tampak subur. Rambut panjangnya yang dulu hitam berkilau kini di potong pendek ala Demi Moore. Hampir aku tidak mengenalinya. Dia sendiri kaget. Dan yang membuatku tertawa , dia bilang , aku masih kelihatan seperti anak ABG , he…3x. sejak itu beberapa kali kami jalan bareng. Sekedar bernostalgia atau menemaninya yang belakangan kutahu keranjingan belanja. Tak ada yang aneh meski Ku perhatikan memang wataknya ikut berubah sebagaimana perubahan fisiknya. Emosinya cepat naik. Kesenggol orang di supermarket , sewot. kelamaan ngantri di kasir , ngomel. Dan ngomelnya itu lho. Kenceng kenceng banget. Sampai sampai semua orang menoleh pada kami. aku jadi jengah. Tapi mau gimana lagi ? padahal April yang ku kenal dulu sangat periang dan humoris. Yang juga membuatku  heran adalah dia dengan mudah meninggalkan bayinya yang masih merah. Ketika ku utarakan keherananku , dia hanya tertawa sumbang.
Suara Dirly , “sampai ke ujung dunia “ melengking dari HP- ku. April.
“ Aci ? “ suaranya mengandung tangis. Aku kaget
“ assalamu’allaikum April , ada apa ? “
“ aku harus ketemu kamu…“
bahkan dia lupa menjawab salamku
“Ada yang mau aku ceritain. Aku sudah nggak tahan lagi… aku … aku … “ kini isakannya jelas terdengar.
Ku tatap sejenak komputerku yang baru saja loading. Duh …
“Aci …..? “
“ oke … oke … tapi kamu harus tenang ya. Sebentar lagi aku sampe rumahmu ..”
“ jangan terlambat … “ suaranya penuh tekanan. Aku jadi sedikit panic.
“ karena kalau kamu terlambat , mungkin kita nggak akan bertemu lagi …..”
Aku tersentak.

(bersambung, nah siapa aja boleh buat cerita selanjutnya,ok?)
»»  READMORE...

Rabu, 13 April 2011

HITAM PUTIH

Putih, bersih, suci.
Gaun pengantin putih itu tergeletak diranjangku. Menerorku dengan kesuciannya.
Aku tak pantas memakainya. Bukan aku. Bukan orang orang hitam sepertiku. Karena warna yang tercipta akan sangat kontras, tak pantas.  Bagaimana mungkin dia, sang malaikat yang menguarkan aura putih itu memintaku mengenakan gaun yang hanya pantas dipakai oleh bidadari saja. Padahal hitamku jelas terlukis. Ia tahu.
“aku pahami jalan hidupmu sebagai garis takdir. Hitam itu hanya warna. Izinkan aku berusaha mengembalikan dirimu kembali bidadari, putih meski sedikit demi sedikit…”
Itu yang dikatakannya, mengapa tekadnya begitu kuat? Tak takutkah ia jika putihnya ternoda? Dia tak kan mendapatkan apapun dariku selain rasa kecewa. Bahkan mungkin… kehancuran.
Aku membuka sedikit pintu kamar, mengintip kesibukan dari celah pintu. Orang orang lalu lalang mempersiapkan pernikahanku. Ohh…pernikahanku tinggal menunggu hitungan jam saja. Bagaimana ini?
Pintu kamarku diketuk. Ibu masuk dan menatapku dalam dalam.
“jangan khawatirkan apapun. Bukankah dia telah menerimamu apa adanya? Dia tahu semua tentangmu dan jika ia masih ingin menikahimu, itu adalah karunia dari Allah. Hadiah atas pertobatanmu..”
ibu mengelus kepalaku pelan. Penuh sayang. Namun sedetikpun aku tak berani menatap mata beningnya. Bu, semoga tidak kau lihat luka yang masih harus kusembunyikan. Luka yang menggores hampir seluruh tubuh hitamku. Tak mungkin kubuka karena itu akan membuatmu berduka.
“tidurlah. Besok pagi pagi kau harus sudah bangun. Lihat, gaun itu menantimu…”
Ia tersenyum sambil menunjuk gaun putih itu. hatiku berdesir.
Putih.
Ohh… betapa takutnya aku akan warna itu. karena ia ‘musuhku’
Ibu berlalu, menutup pintu kamar, meninggalkanku dalam senyap. Kamar ini, esok akan menjadi kamar pengantin. Nuansa putih - ohh…lagi lagi putih – yang mendominasi dekorasi membuatku mulai gemetar.
Aku menerima pinangan laki laki itu karena tahu betapa ingin Ibu melihatku menikah. Laki laki putih itu, mungkin adalah pilihan terbaik bagi gadis manapun. Kecuali aku. Aku tak kuasa menolak saat melihat mata ibu yang memohon. Padahal hatiku gamang. Ia putih. Aku hitam. Bagaimana mungkin bisa disatukan?
Dan kini, aku berada dipersimpangan. Masih ada beberapa jam lagi untuk membuat keputusan. Menikahinya berarti menghancurkan hidupnya. Membatalkan pernikahan sama saja mnghancurkan hati Ibu. Mana yang harus kupilih?
Aku memejamkan mata. Namun siluet itu kembali membayang. Obat obatan laknat, jarum suntik, tes darah..
HIV
Aku tersentak. Bagaimana mungkin aku melakukan ini? Bagaiamana mungkin aku menodainya putihnya dengan hitamku? membiarkannya berubah warna menjadi kelabu. Warna yang suram, tak hidup, tak enak dipandang mata. Bahkan bagiku ia bukan warna.
Dan jika nantinya ia menyiramiku, berarti tunas yang akan tumbuhpun semua akan kelabu, layu…
Itu tak boleh terjadi…
Dan sejam kemudian, disinilah aku. Mengemas gerimis sendiri. Mencoba berdamai dengan hati. Tak kan kubiarkan putih malaikat itu ternoda oleh hitamku.
Ibu, maafkan aku. Kuharap, suatu saat nanti kau akan tahu dengan caramu. Kau pasti mengerti.

SENYUM YANG MEMERAH

Oleh Yazmin Aisyah


“permisi…!!”
Jrengg…!!
“maaf ya…!! “ sebuah suara berteriak dari dalam rumah.
Aku menghela nafas lelah, lalu menyeret kakiku yang mulai pegal. Terlalu banyak penolakan, bahkan sebelum aku sempat memetik senar pertama, suara suara ketus sudah mengusirku. Sudah setengah harian aku berkeliling complex perumahan  ini, tapi yang kudapat tak lebih dari enam lembar seribuan dan lima koin limaratusan. Delapan ribu lima ratus. Apa yang bisa kudapat dengan uang itu? mana mungkin cukup menyumpal empat mulut yang menantiku dirumah.
Sebuah gerbang terbuka menarik perhatianku. Sebenarnya, tubuhku sudah sangat lemah. Sejak pagi, hanya segelas teh tawar dan sepotong singkong rebus sebagai pengganjal perut. Namun ketika wajah istri dan ketiga anakku membayang, semangatku kembali menyala.
“permisi…!!”
Tak ada sahutan. Aku gembira, mungkin penghuni rumah ini bersedia mendengarkan suaraku.
Dari pintu ke pintu ku coba tawarkan nama, demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya…
Lagu ini meyayat hati. Lagu milik penyanyi kesayanganku, Ebiet G.Ade. Namun, sampai selesai ku nyanyikan, tak ada suara apapun dari dalam rumah, juga tak seorangpun muncul untuk melemparkan uang. Ah, sesungguhnya aku malu setiap kali menerima uang bak pengemis, tapi mencari pekerjaan di kota seramai ini bukan hal mudah.
Lagu kedua kunyanyikan. Masih milik Ebiet G. Ade, Camelia. Namun sebelum selesai, mataku menangkap sebentuk barang di atas meja tamu. Sebuah handphone yang kelihatannya mahal.
kalau kuambil saja barang itu, aku tak perlu mengamen lagi beberapa hari. Entah darimana datangnya, fikiran kotor itu menyelinap dibenakku. Beranikah? Aku celingukan, tapi rumah besar ini benar benar senyap. Bahkan sekedar suara televisipun tak terdengar.
Ragu ragu, aku melangkah melewati ambang pintu. Wajah anak istriku membayang. Perut mereka yang lapar, wajah wajah tak berdosa yang selalu berhias senyum tulus. Tiba tiba aku tersadar. Allah, jika kuberi mereka makanan haram, bagaimana aku menjawab pertanyaanMu di Yaumil Akhir kelak?
Aku mengusap peluh yang membanjiri kening sambil beristigfar. Gegas, aku melangkah keluar pagar, tak peduli pada benda mungil yang tergeletak pasrah di atas meja seakan menggodaku.
“maliiiiiiinnggg…!!”
Tiba tiba, entah darimana datangnya, teriakan dan suara derap langkah puluhan manusia sudah berada di dekatku. Aku kaget, dan lebih kaget lagi ketika lelaki pertama yang sampai ketempat ini langsung menghampiriku, sementara di belakangnya tampak puluhan orang mengejar. Tanpa berkata sepatahpun lelaki itu menjejalkan sebuah bungkusan ketanganku, lalu berlari dan menghilang diujung jalan.
Derap kaki itu kian mendekat..
“itu dia malingnya!!”
Aku bengong
“hajaarrr…!!”
Bag bug bag bug…!!
Wajah anak istriku membayang, tersenyum. Namun semakin lama, senyumnya makin merah, lalu hitam.

Bandar Lampung, 11 januari 2010
The story ‘about the tragic people  often happens

Selasa, 12 April 2011

(Bukan) Karena Kau Cantik

(bukan) KARENA KAU CANTIK
Oleh Yazmin Aisyah

“kau begitu sempurna Vi, bagaimana mungkin ada lelaki yang menolak dijodohkan denganmu?”

“nyatanya dia menolakku Ra. Katanya aku terlalu cantik”

Aku terdiam. Aneh sekali. Apakah cantik itu salah? Diluar sana ratusan gadis melakukan berbagai perawatan, berlomba lomba ke salon dan spa bahkan operasi plastik hanya untuk satu tujuan. Cantik. Bukankah gadis cantik itu dambaan setiap lelaki? Kalau lelaki itu dijodohkan denganku, pantaslah dia menolak, karena aku…

“padahal aku sungguh sungguh menginginkannya Ra. Dia memiliki semua yang dinginkan perempuan untuk jadi suami. Mapan, sholeh, ah… aku sungguh menginginkannya…”

“tenanglah Vi, akan datang jodohmu kelak. Pada saat yang sudah Dia atur dan insyaallah jauh lebih baik darinya…”
Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku.

“entahlah…” suara itu melamun, “entah apakah aku masih punya muka datang ke kantor. Seisi kantor sudah tahu kalau orangtua kita dan orangtuanya sudah menjodohkan aku dengan dia sejak kecil, tapi dia…” Vina berhenti sejenak, “ menolak…”



Percakapan itu masih bergaung di otakku. Vina hanya setahun lebih tua dariku. Ia cantik. Garis garis wajahnya begitu sempurna. Hidung bangir, mata bulat dan alis tebal yang menaunginya, juga dagu membelah yang pasti sangat sedap dipandang mata. Jemariku pernah merabanya, sekaligus memastikan betapa halus kulit wajah itu. belum terhitung tubuhnya yang tinggi semampai, suara halus yang tak pernah berkata kasar. Sebagai wanita, aku yakin dia nyaris sempurna. Sungguh tak masuk akal ada lelaki yang menolak dijodohkan dengannya.

“mau apalagi kamu datang? kamu sudah mempermalukan putri saya…”

Sayup sayup aku mendengar suara Ayah datang dari ruang tamu.

“saya minta maaf pak, tapi saya punya alasan menolak dijodohkan dengan Vina…”

Oh, lelaki itu yang datang. Mau apa dia? Aku menajamkan pendengaran. Menguping sungguh bukan tindakan terpuji, tapi aku harus tahu apa yang membuat lelaki itu menolak kakakku.

“sudah sudah… saya tidak butuh alasanmu. Sebaiknya kamu segera pergi sebelum kesabaran saya habis…”

“tapi saya kesini untuk melamar putri bapak…”

“apa maksudmu? Kamu sudah menolaknya! Jangan mempermainkan keluarga kami…”

Suara Ayah berang. Aku juga ikut gusar, bahkan nyaris berlari keruang tamu. Sudut hatiku masih berbisik, hati hati Ra, jangan sampai kau jatuh

“bukan Vina…”

“lalu?”

“Fara…”

Langkahku terhenti. Kenapa dia menyebut namaku?
“saya ingin melamar Fara…”

Aku tertegun. Didepan sana, Ayah mungkin lebih kaget daripada aku, tersirat dari suaranya yang tiba tiba hilang.

“saya menginginkan calon istri yang masih suci hati dan penglihatannya, terlindung dari noda dunia, dan itu, maaf, bukan Vina. Tapi Fara, justru karena ia tak bisa melihat…”

Bandar Lampung, 7 januari 2011

Bunga Untuk Valentine

BUNGA UNTUK VALENTINE
Oleh Yazmin Aisyah

“Aku tidak suka kau begini Val! Kau jadi terlihat aneh, primitif!”

Gadis itu menatapku sejenak, lalu membuang pandang ke pohon - pohon pinus yang berjejer rapi di seberang halaman rumah.

“Maaf Tim, this is my choice. Terserah kau suka atau tidak.”

Suaranya sehalus beledu. Tapi itu justru membuatku makin marah. Keseluruhan penampilannya membuat emosiku kian memuncak. Baju panjang tanpa model dan kain lebar yang menutupi rambut coklatnya yang ikal dan indah. Val lebih mirip ibu – ibu bangsa barbar itu daripada gadis Amerika berusia 19 tahun.

“Setan apa yang merasuki dirimu Val? Bukankah dulu kau sangat membenci semua tentang islam?”

“Allah telah membuka pintu hidayah untukku Tim. Tangan-Nya begitu lembut menuntunku masuk dalam pelukan-Nya”

Shit! Sungguh tidak masuk akal. Val, gadis yang kucintai setengah mati, kini membelot dan menyudahi hubungan kami hanya karena ia muslim kini. Padahal telah begitu banyak waktu kami habiskan bersama.

“Dan satu lagi Tim, aku tidak bisa ikut merayakan valentine bersamamu besok”

“Ada yang lain?” tanyaku curiga.

Val menggeleng dan tersenyum tipis, “Tidak. Hanya saja itu tidak ada dalam ajaran agamaku sekarang.”

Prang!

Val tersentak, sontak ia bangkit dari kursi yang didudukinya. Wajahnya pucat. Aku tak peduli pecahan gelas yang kubanting tadi mencelat kemana – mana, salah satunya mengenai pergelangan tangannya, menciptakan segaris luka yang memercikkan darah.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau tetap pacarku dan besok kita tetap merayakan valentine bersama. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Dan ingat, jangan gunakan kain jelek itu!”

Val berdiri dengan kaki gemetar. Matanya berkaca – kaca. Aku pasti telah membuatnya takut. Ini pertama kali aku berlaku kasar padanya.

“Dan ingat Val, malam – malam yang telah kita habiskan bersama. Kau fikir Tuhanmu itu akan mengampunimu?” aku tersenyum mengejek.
***

Maafkan aku Tim, aku tetap tidak bisa. Aku berusaha taat dan mengikuti agama yang kupilih meski harus belajar dari awal, merangkak dan tertatih. Sesungguhnya, betapa ingin aku menjalani semua bersamamu, tapi agamaku tak pernah memaksa umat lain untuk ikut pada ajarannya.
Dan please, namaku kini Aisyah, bukan Valentine lagi. Dan aku pun tak kan pernah lagi merayakannya, sebagaimana agamaku mengajari untuk tidak ikut perayaan umat lain.


Aku meremas kertas itu gusar. Rangkaian bunga chrysant, rose dan jasmine yang kubawa untuknya kubanting ke lantai dengan sepenuh emosi. Val tak kutemui di rumahnya. Cuma ada sepi menyambutku bersama surat yang ia tinggalkan di atas meja tamu. Val, Aisyah…! Persetan! Aku harus mencarinya dan memaksanya merayakan valentine bersama. Apa kata teman – teman jika tahu kami berpisah setelah mereka tahu selama ini kami begitu serasi? Dan februari tanpa valentine? Jangan harap Val…

Ciiiitttt… prang!

Porche kuning terang itu melarikan diri setelah membuat tubuhku melayang sekian meter. Ada cairan amis dan lengket meleleh dari pelipis. Pandangan mataku mulai kabur, namun masih sempat kulihat sesosok tubuh semampai berlari mendapatiku.

“Timothy, bertahanlah! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!"

Ada air menetesi wajahku. Airmatanya kah? Apakah itu berarti dia masih mencintaiku? Tapi mengapa ia tak mau merayakan valentine bersamaku lagi?

Valentine, Aisyah, siapapun namamu kini, yakinkan aku mengapa islam tak merayakan valentine, maka aku takkan memaksamu melakukannya lagi.


499 kata tidak termasuk judul dan nama penulis
Bandar Lampung, 08 februari 2011
Say no to valentine yuk!

Update Final Peserta Audisi Cerpen "PERNIKAHAN DINI"

Alhamdulillah, event kita selesai juga. setelah berkutat dengan komputer berabad2 lamanya (lebay, hehehe...) akhirnya saya bisa publish update terakhir peserta.
dengan berat hati panitia terpaksa men-diskualifikasi beberapa peserta yang mengirim naskah lewat dari jam 21.00 (di lihat dr komputer panitia yg Insyaallah jarumnya berputar dengan benar) dan juga peserta yang mengirim naskah di badan email. ini sebagai penghargaan kami pada teman2 yg telah tepat waktu dan memenuhi persyaratan. juga sebagai pembelajaran bagi kita semua.

so, inilah daftar para peserta yang akan 'bertarung' di panggung pelaminan Dini...

1.   Pelaminan Satu Tujuh - Nisa Nuraeni
2.   Bapak, Bolehkah Ku menikahi Anakmu? - Aida M Affandi
3.   Pernikahanku yang Dini - Nisrina Lubis
4.   Ainun Mardiah - Syaque Hikari
5.   Petikan Bunga - Gadoell Asik
6.   Gerobak Cinta - Yurmawita Adismal
7.   Masjid Biru - Umystha Fasuruqa
8.   Gadis Itu, Tigapuluh Tahun - Rizky Ramadhan
9.   Denyar Cinta - Usup Supriaydi
10. Bukan Ilalang Jadi Saksi Cintaku - Levina Nyt Siwallete
11. Pernikahanku Dini - Ratnawati Muhammad
12. Kutukan Adat - Setiawan Chogah
13. Ternyata Ini Yang Ku inginkan _Yayu Destiani Puteri Dadang
14. Tamu Yang Datang Malam - Dedi Supendra
15. Kumandang Cinta Sang Pemanah - Jenalerevolusi
16. Kulihat Mentari Di matamu, Dik - Willyou Putra Sinar
17. Flyover Rhapsody - Skylaster Maryam
18. Aku, Kinanti Dan Masa lalu itu - Renny Rusniawati
19. Kugendong Anakku Dibangku Kuliah - Farida M.Rokhmah
20. Akhirnya kutemukan Pelangiku - Tika Artiwi
21. Hati Wanita Bermata Mutiara - Yadhi Rusmiadi Jashar
22. Perjodohan Kontrak - Ally Jane Parker
23. Ketika Waktu Bukan Lagi Penghalang - Rialitha sukma priha
24. Eci Mau Nikah Muda - Muthiah Rizki Dewi
25. Jangan Takut Bagas! - Imam Sonhaji
26. Nikahi Aku - Lilyani
27. Because Of You - Ranie Uverchan
28. Warna Warni Pelangi Cinta - Agustini Suciningtias
29. Takdir Dini - Andi Sri Suriati Amal
30. Kado Terindah - Muji Sasmito
31. Kesan PErtama pada Tausiah - Istiqomah Aulia
32. Buku Bersejarah Itu - Selly Kania
33. Satu Minggu Najwa - Alfa Verdorben
34. Sebuah Keputusan - Niken Prawesthi
35. Berdua Melukis Mimpi - Weni Wahyuni
36. Kekuatan Cinta - Willy Wilimarz
37. Sepenggal Kenangan - Nessa Kartika
38. Aib Sandungan Si Bungsu - Abdul Azis
39. Jilbab Merah Ayunda - Argha Verdorben
40. Berkah Menikah Muda - Rizky Dwi Ami
41. Dia Bukan Tipeku tapi Bidadariku - Jantriwanis Sudra
42. Bidadari Sunyi - Desri Susilawani
43. Tuhan, Izinkan Kami Melihat Surga - Nuyuii Selalu
44. Ketika Cinta Dipertanyakan - Hilda Fadhila Sinaga
45. Sepenggal Kisah Dalam Hidupmu - Arief Budiman Tjokrowartono
46. Surat Tak Sampai Suratan Takdir - Luthfi Ibnu Hasan
47. Sebuah Pelukan Untuk Tyas - Edwin Yulisar
48. Topeng - Akhsane Taqween
49. Serpihan Cinta - Indah T.Pradita
50. Nikmat Allah Mana Yang Engkau Dustakan? - Mariana Nana Khoirin
51. Kisah Ella - Faujiah Lingga
52. Aku dan Kamu  (Harapan Yang Terwujud) - Annisa Valentina
53. Mount In Love - Karina Ai Chan Kurnia
54. Sebening Embun Seindah Senja - Athyra Souhara
55. Permintaanmu Dulu, Restumu Kini - Nata Salama
56. Mempelai Putih - El Eyra
57. Ikhlas Itu Indah - Akhwatul Chomsiyah Firdausa
58. Wajah Surga - Modemoisell Rasyah
59. Aku Akan Menunggu - Etika Indra Khusna
60. Kita Dan Rahasiamu Sobat - Angger Minerva
61. TK-Tes Kesiapan - Hesti Daisy
62. Pilihan Hidup - Ramlah Rattang
63. Aku, Kamu dan Islam - Dhila Ummul Fadhilah
64. Sahabatku Tercinta, Lana - Qurotta Ayunin
65. Petuah Dan Cinta Amak - Assyafah Nafira
66. Hati Untuk Amir - Zami Kawulo Enggal
67. Pendidikan atau Pernikahan - Vinho Fransesca
68. Usia 19 tahun aku Meraih Ridho-Nya - Tya Marty
69. Ia Tak Salah - Yusnita Fbs
70. Ternyata Aku - Asni Januarti
71. Kekuatan Cinta Pernikahan Dini - Fithri Yatul Humairo
72. Dia, Sahabatku! - Hidayatul Sya'diah
73. Sebuah Nazar - Nih'Nurul Sebatangkara
74. Berawal Dari pertemuan Di Senja Hari - Fithri Nur Millah
75. Kisah dan Pewlajaran Untukku - Minhyan-ssi
76. Hitam - Rafif Amir Ahnaf
77. Dini Cuma Mimpi - Ibnu Setyawan
78. Runtunya Sebuah Ego - Rosi Meilani
79. Aku belajar ikhlas karena Ayah Bunda - Adnanda Findika
80. Mendadak Nikah - Ayka Noura
81. Cinta Itu Melamarku - Lina Lidya
82. Bukan Karena Tali Merah - Asti Wijaya
83. Mahar Suciku Lima Puisi - Syarif Hidayatullah
84. Menepi, Menanti pinangan - Midun alyasyah
85. Ketulusanmu, meluluhkanku - Iliana Loelianto
86. Pria berjiwa besar - Wicha Speecha Breeze
87. Petuah yang tak berlaku - Momo Mimi
88. Cintaku di ujung jalan - Neng Mimi
89. Kinanti namaku - Ismi disinii
90. Kawin Muda - Sumarno Wec
91. Be Married, siapa takut? - Yanti Nurohmayanti
92. Sebuah Perjalanan Panjang - Pritha Khalida
93. Cahaya Cinta - Tris Anova Arlim
94. Watini, Wanita tiga zaman - Ika Yunnie
95. Gerimis Cinta Faizah - Ukhti Shine Naziku
96. Pernikahan Ini Untuk Ibuku - Lisna Ajjh
97. Akhir Dari Pernikahan Dini - Leni Afriani Rahayu
98. Beri Ia Nama Tegar Ginanjar - Alfian Amiul Hanif
99. Teddy Bear Untuk Nisa - Syifa Azmy Khoirunnisa
100. Marina, Kamboja Itu Indah - Endang Ssn
101. Istana Kecil Kita - Anna Oktaviana
102. Denting-Denting Bisikan Hati - Wanda Kaniawati
103. Berpendar - Kurniasih Bahagiati
104. Pinangan Mas Radit - Meita Yunita
105. Nadia, sahabatku, istriku - Dwi Giriyono
106. Goresan Pena Cinta Pernikahanku - Sheila Fitriasari
107. Cintaku Cintamu dan CintaNya - Tari Ayankna Haris
108. Mahar - Syari Vaqoth
109. Katakan Ya - Neraca Hati
110. Kau Berhak Bahagia Dini - Cahaya Hati
111. Lumina Menjadi Cahaya - Aini Zahra
112. Aku Ingtin Ganti Status - Dhina Bunda Haura
113. Gara-gara Getuk Lindri - Rahdan Syafi'i
114. Would You Marry Me? - Febriyana Puspa
115. Abi, Izinkan Putrimu Ini menikah - Fitri Bundanya Elfad
116. Cinta sucimu untukku - Aulia Rachma
117. Menanti Pernikahan kEtujuh - Itsuki Nurmani
118. Malaikat Dalam Hatimu - Mardiana Ntx
119. Rental Al-fajar Mengawali Kehidupan Kami - Bunda Mala
120. Mbakku, Emakku - Lina Li
121. Mas, Siapa Wanita Itu? - Moh. Maman Saifurrohman
122. Diary Cinta Naya - Wulan Purnamasari
123. Let's Get Married - Ika Hima
124. Berlayar Dari Ambarawa Ke Tanggerang - Stephanie Fitrah
125. Selimut Cinat Untuk Dian - Suparno Hasta
126. Atas Nama Cinta - Arfin Murtie
127. Dua Sudut Hati - Siti Zaleha
128. Surat Bergambar Pengantin Dini - Lara Ahmad
129. Restu Ayah - Elly Nurlaili
130. Bukan Dilema - Susilowati
131. Saat Hujan Turun - Oci Ym
132. Meniti Biru - Halwa R Balqis
133. Nikah Cepat, Lulus Cepat - Reza Irwansyah
134. Lukisan Senja Di tengah Rinai Hujan - Sunny Qu
135. Pendar- pendar Cahaya - Bening Lazuardi
136. Young Married - Sofa Mrzchibyl
137. Istana Cinta Di Negeri Sakura - Aini Nur Latifah
138. Kejutan Dari Kanaya - Allina Shita
139. Sebenar-benarnya layak - Liliek Soedirman
140. Cincin Kawin - Happy Rose
141. Manisnya Coklat Pernikahan - Sylvia Dyah
142. Menikah Karena-Nya - Sri Wahyuti
143. Cinta Dalam Pernikahan - Intan HS
144. Balas Jasa Dengan Menikah Sebagai Solusinya - Opik Hidayat
145. Matahari Cinta - Novie Ajje
146. Sepucuk Surat Linda - Hypoglassus Juni Hurairah
147. Selamat Datang Cinta - Ratna Dwi Kumalasari
148. Nikah Dini? Enjoy Aja - Eka Nur Susanti
149. Biarkan Aku Menikah - Dian Yuan Andari
150. Pernikahan Dini dan Mimpi-Mimpi - Astuti J. Sjahban
151. Bingkai Cinta - Abi Sabila
152. Insyaallah, Aku Siap - Yulina Trihaningsih
153. Di Penghujung Penantian - Siti Baroroh Barit
154. Never Imagined - Khalifah Ethy
155. Lantai 17 Pinisi - Wawan Kurniawan
156. Jalan Tuhan - Chinta Syahreza
157. Maret Di Langit Malamku - Moetimoet Whae
158. Surat Untuk Bidadari Kecilku - Resti Nurfaidah
159. Ijinkan Aku Menikah - Khusnul Khotimah
160. Lebah Tidak Melukai Bunganya - Iis Melyasti Az-Zahra
161. Akhir Penyesalanku - Indah Puspitasari
162. Malam Di Penghujung Tahun - Uut Utami
163. Biarkan Aku Menikah - kinoy Raomi
164. Merengkuh Cinta Dalam Muda- Adel Gigih
165. Maafkan Aku Dewi, Pipit Cupritzz
166. Ayu, Aku mencintaimu - witrie rahardjo
167. Landci - Andinta Aristika
168. Buah hati menyatukan kita - go minam anisah
169. jawaban pinanganmu - Mieny Angel
170. Bunda, izinkanlah aku meminangnya - srikandi anisah
171. karena aku seorang ibu - made filippo jaya
172. ketika sayap2 cinta mengajak untuk terbang - white putra knight
173. karena jogja - win sugiarti
174. kamila nikah muda - stepahnie deborah
175. bukan tak ingin menikah - Dyah Ayu
176. Kelam - Elka ferani
177. Tekad zahra - Hidayatul hasanah
178. Menikah karena-Mu - Vienie Ani
179. Itu hanya mitos - indah prisilla Joedo
180. Gubahan kesanihan - Alizar tanjung
181. kerja kuliah dan nikah berkah pernikahan diniku - Aus Almardiyah
182. Diam-diam aku menikahinya - novie najmi
183. Senyum nabila - Nurlaili fajriyah
184. Setelah kamu dan aku menjadi satu - Dyah Ardiayanti
185. Balada Renita di malam purnama - Hasudungan Rudy Yanto Sitohang
186. Pelangi cinta Aida - Retno pkpu
187. Lebih indah dari sebuah dongeng - Rachma indah lestari
188. Dua Raksasa - Fadila Hanum
189. Curahan Hati Menikah Muda - Miyoshi
190. Aku (belum) siap menikah muda - Visya Blue
191. Rea, Ana , Dee dan pernikahan dini - Ayarumy
192. 3600 detik - Zahra nupus
193. Lamar - Methia Farina
194. PD nggak laku - Lely noormindhawati
195. Mau dikasih makan batu? - Rissan aulia
196. Nikah dini - Najma Amania
197. Pencegahan dini - Nurlinda Indah SN
198. Ketika Lila berlalu - Indah Manggaga
199. Prasangka, tak jelas tak benar - Tiara Tya andini
200. Proposal - Mega Anindyawati
201. At beautiful moment - Anisa Agustina
202. Alya - Kurniawan Gunadi
203. Kusambut engkau dengan senyuman - Diana Agustin
204. Judhu Tabu - Asri Diana kamilin
205. Janjiku untuk anak kita - rahmat zainudin
206. Catatan cinta - Hastuti Utami
207. Janji T-Squad - Qatrinnandya
208. Sang pengantin - Pencari Ilmu
209. Sembilan belas - muhammad Hartono
210. Nikah muda? siapa takut? - Nurjannah Jaimbun
211. Lelaki itu - Mujahidah amirotun
212. Replika patung lilin - Priscilla Chincia
213. Mengharap Ridho Bapak - Ardi Kurniawan
214. Indahnya menikah dini - Beta Ria
215. Mudaku, Impianku - Indah sulistyani
216. Jangan menyerah - Riza Isnawati
217. Sebait Doa Cinta - Shitie Fatimah Maniez
218. Kau pinang aku dengan stetoskop - Ayuu feat Ayuu
219. Perempuan muda - Mey zusanna
220. Tidak terbatas usia - Thera 'chibonk'
221. Masa depanku terputus - Muhammad Shobur
222. Tersemat hati buat brondong - Ayhue RH
223. Ketka semua kuserahkan kepada-Nya - Min min rin
224. Sepercik embun kebahagiaan dalam sebuah penantian - Mahilda komalasari
225. Panggilan manis darimu - Laras kartika
226. Sad story -Rin Luna
227. Bilakah pernikahan menjadi hijrah terbaikku - Mursyidah Mesra
228. Aktivis Punya Cerita - Adisaputro Nazhar

bagi yang namanya salah-salah sedikit mohon maaf ya. nanti akan di perbaiki sampai bertemu di event selanjutnya.

Juri : Syamsa Hawa dan Dewi Hastuti

selamat berjuang!


salam
Crew CePeDe

Senin, 11 April 2011

MALING!

Cerpen kedua yang di muat di annida online, juni 2009


MALING… !!!!



“ maling…maling…!!”
“ maling ? mana malingnya ? “
“ lha iku ? !! “
“ yang tadi lewat iku maling to pak ?!! “
“ lha iyo… kok pada bengong…!! “
“ maling opo ? “
“ ndak penting, yang penting…”
“ kejaaaar….!!!! “
Suara derap belasan kaki bergemuruh, ada yang bersandal. Tak sedikit yang karena panic dan emosi melupakan sandalnya yang bergeletakan dekat pintu rumah.
Allahhu akbar allahu akbar !!
“ maling nekad, maghrib maghib kok ya maling…!! “
“ kalo ndak nekad dia ndak bakalan jadi maling…!! “
“ Maling apa ? “
“ Besi, di penampungan rongsokan…!! “
“ masyaallah, Cuma maling besi, bisa bonyok dia kalau sempet ketangkep…!!”
“ Iyo, mbok ya kalau maling yang berharga dikit, jadi kalo ketangkep ndak malu maluin…”
“ Husyy… bu las iki ngawur…”
“ lha iyo bu kir, sayang to…? Tapi biar aja di gebukin, orang ngumpulin rongsokan susah susah, eh, dia maen ambil saja…””
“ mungkin butuh buat makan. Terlalu banyak orang miskin. Pada males kerja..”
“ sendirinya juga miskin…”
“ sampeyan juga. Wong sekampung kita Cuma  pak RT yang kaya…”
“ korupsi, bikin KTP saja limapuluh ribu. Padahal Cuma tigapuluhlima ribu. Kalau sepuluh orang sudah berapa ? “
“ eh…sudah sudah…maghrib maghrib ngerumpi. Ndak denger adzan ? “
“ kamu sendiri ? “
Cengar cengir, yang barusan menegur, perempuan bertubuh tambun.
“ lagi ‘libur’…”
“ huuuu…” serempak memonyongkan bibir, lalu masuk rumah masing masing. Bukan rumah sebenarnya, hanya petakan petakan tiga ruangan yang berdempet dempet. Sesak. kumuh
Salah satu perempuan tadi, yang dipanggil Bu Las, masuk dan mendapati Romlah, anak gadis tanggungnya sedang tidur tiduran di depan televise hitam putih empatbelas inch.
“ ealah…ni bocah. Shalat…nonton tv terus…”
“ ibu aja ndak shalat…”
“ eh, dasar anak kurang ajar, sok mau ngajarin ibu…”
“ Yee… dimana mana juga kalo mau nyuruh anak shalat ibu dulu yang shalat. Boro boro…apalagi bapak, maghrib maghrib ngilang…”
BUKK!!!
Bantal dilempar, Romlah mengelak tangkas, lalu kabur keluar. Padahal malam sudah gelap. Jalan jalan juga. Penduduk terlalu miskin untuk memasang lampu jalan. Atau pelit ? takut menghadapi tagihan listrik yang membengkak.
***
Tengah malam, suaminya pulang. Bajunya basah, badannya berpeluh, sandalnya putus.
“ ealah pak… iku sandal putus meneh, aku ndak punya duit beli yang baru…”
“ biar nanti disambung pake peniti…”
“ bapak dari mana to sampe basah basahan ? “
“ ngejer maling !”
“ dapet ? ”
“ malingnya gesit kok bune … ngilang dideket kebun… nyebur kali’ lalu naik pagar pembatas kebun ke kampung sebelah. Hilang “
“ kok bapak tahu ? “
Gelagapan,
“ eh…eh…anu… ya perkiraan aja. Pasti orang kampung sebelah yang maling…”
“ yo ndak mungkin, orang kampung sebelah ndak miskin kayak kampung kita “
“ kata siapa ? sok tahu “
“ lho…aku kan ikut kumpul kumpul pengajian, pernah diundang ke mesjid kampung itu. Umah’e apik apik …”
“ nah…nah… ikut pengajian tapi aku ndak pernah lihat bune shalat…”
Nyengir, malu malu kucing, malu maluin.
“ kalo dirumah males pak, ndak ada yang lihat. Kalo pengajian aku shalat kok…” ingat sesuatu, rautnya berubah, garang..” pak’e aja ndak shalat…”
“ lho…lho…kalo aku ya…” ragu ragu…” sibuk…!! “
“ sibuk opo ? wong pengangguran aja ngakune sibuk “ bersungut sungut, lalu membanting pintu.
“ besok ndak ada duit buat beli beras, Romlah juga bilang ndak mau sekolah lagi. Sering bolos karena ndak ada ongkos. Malu…”
“ nih…!! “
Suaminya menyorongkan dua lembar lima ribuan. Perempuan itu menggerutu panjang pendek.
“ duit segini cukup opo ? pokok’e mulai besok bapak harus ngasih aku limapuluh ribu sehari. Kalo sampe minggu depan nasibku masih ndak jelas, aku mau balik kerumah orangtuaku. Percuma ndue bojo…”
PLAKK !!
“ kurang ajar, wedus… kenapa dulu mau kawin sama aku ? aku sudah dari dulu miskin…!! “
Mengusap usap pipinya yang terkena tamparan, istrinya cemberut, lalu membanting tubuh kekasur butut dirung tengah. Diruang sebelah, yang pintunya hanya ditutup dengan selembar gorden butut, Romlah sudah mendengkur.
“ lho…lho…bu, aku iki urung mangan…”
Nggak merasa bersalah sudah menampar istrinya, buat apa ? tampar tamparan sudah jadi makanan hari hari. Apalagi kalau Cuma makian wedus, monyet, goblok…
“ sudah habis semua. Siapa suruh pulang tengah malem ? “
“ nasi tok ? “
“ndak ada !! “
“ yo wis, buatin kopi aja “
“ ndak adaaa !!! “ teriakannya kesal
Cekurukkkkk, perutnya berbunyi nyaring. Mirip kokok ayam yang mau disembelih.
***
Pagi menjelang siang, ibu ibu sudah  ngerumpi lagi. Sambil merubungi tukang sayur yang melayani dengan muka cemberut. Kesal, terlalu banyak orang ngutang. Nggak ngerti apa kalau jualan butuh modal ?
“ hebat iku maling, dikejer orang banyak ndak ketangkep  “
“ mungkin punya ilmu meringankan tubuh”
“ ngawur, jaman moderen kok ya masih ada ilmu begituan “
“ ehh…ndak percaya ? yang pesugihan aja masih ada…”
“ ayo ibu ibu…cepetan belanjanya, saya masih mau keliling…”
Tukang sayur nggak sabar. Sudah tukang ngerumpi, ngutang melulu…tapi dia selalu nggak tegaan. Yang ngutang, dikasih juga. Seperti…
“ wah ada cumi, kesukaan Romlah,  piro iki ? “
“ setengah kilo, lima belasribu…”
“ aku ambil ya pak…engg…duitnya nanti…kalo bapaknya dapet duit…”
Tukang sayur Cuma bisa pasrah. Salahnya, bawa dagangan mahal ke kumpulan ibu ibu tukang ngutang.
“ makanya ati ati naro barang, lagi musim maling “
Rupanya obrolan maling masih berlanjut
“ ada lagi yang mau belanja ? “
“ eh, pak sayur buru buru tenan…”
“ jumat bu… mau jumatan …”
“ oh iyo…yo wis, kita kan mau pengajian juga”
Tukang sayur Cuma mengelus dada. Selama itu mendengar celotehan ibu ibu, Cuma laku setengah kilo cumi, itupun di utang. Heh…
Bu Las masuk, menendang kaki suaminya yang masih mendengkur
“ poko’e nanti malam sudah harus ada duit limapuluhribu”
Suaminya tetap mendengkur, entah dengar atau tidak.
“ pak !! denger ora ? awas yo…”
Suara dengkuran makin keras. Bersaing dengan suara orang mengaji yang bertalu talu dari masjid. Sudah hampir waktunya jumatan.
***
Tengah malam, lagi lagi bangun tengah malam. Tapi kali ini bukan suaminya yang membangunkan. Tapi suara teriakan gaduh tak jauh dari rumah. Perempuan itu mloncat dari kasur, gendhuk nya mengekor sambil mengusap ngusap mata yang belekan
“ ono opo ? “
“ maling ketangkep “
Bu Kir dan Welas, janda bertubuh tambun itu sudah lebih dulu berkumpul di muka rumah.
“ maling besi lagi ? “
“ katanya ndak, kemaren wis sukses. Ya sekarang nyikat yang lebih berharga dong. Katanya TV bu RT yang baru …”
“waah… TV mahal. 21 inch, Politron lagi “
“ biar saja, dapet korupsi ini. Lagian Bu RT kan meditnya minta ampun  “
“ tapi ketangkep kok…”
“ yuk ndelok…”
Mereka beramai ramai mendekati kerumunan warga yang sudah lebih dulu tiba. Kebanyakan bapak bapak dan pemuda. Mereka membawa pentungan.
“ wah pasti bonyok “
Suara mengerang terdengar jelas. Bikin merinding. Orang orang yang gelap mata, hilang sudah rasa kasihan. Gedebak gedebuk, seperti memukul karung saja.
“ buka sarungnya !!! “
Maling itu mengenakan sarung yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya matanya yang terlihat. Mata itu pun sudah lebam.
“ susah pak…”
Ibu ibu meragsek maju. Mencari pengalaman pertama melihat maling digebuk massa. Selama ini hanya lihat di TV saja. Entah masih ada rasa iba atau tidak
“ dasar maling kurang ajar !!” suara pak RT berang,
“ kalau mau nonton TV ya beli sendiri “
“ pemalas !! “
“ cincang saja !! “
“ jangan jangan… dibawa ke kantor polosi aja !! “
“ huh, polisi. Sama aja. Disana juga di gebukin. Mending kita yang gebukin !!!“
“ setuju, nanti kalau sudah puas baru kita bawa “
“ eh, buka dulu sarungnya, siapa tahu kita kenal “
Sarung dibuka, seketika suara pekikan bersahut sahutan….
“ lho…pak’e ? “ pekik Bu Las
“ bapak !!! “ Romlah tak mau kalah
Maling itu menatap Bu Las, lalu anaknya.
“ bune…maaf…aku belum bisa ngasih duit limapuluhribu sehari. Tapi jangan pulang kerumah orangtuamu ya. Sopo sing ngurus bapak nanti ? “
Orang orang melongo.

Kedaton, 060309
The story ‘bout the tragic poor people






APRIL

Cerpen pertama yang di muat Annida Online, April 2009


APRIL

PART ONE

Matahari mulai merayap menuju titik tertingginya. Aku mengusap peluh yang mulai membanjir di dahi. 2 bulan ternyata belum membuatku terbiasa dengan udara panas kota Lampung. Di depanku , April sudah lebih dulu tiba di depan pagar sebuah rumah tipe 36 ber cat hijau
“ masuk Ci. Ini rumah sepupuku … “ ujarnya tanpa menoleh. Kantung kantung plastic yang dibawanya tampaknya yang mendorongnya untuk bergegas. Di ruang tamu , seorang perempuan muda menggendong seorang bayi menyambut langkahnya.
“ April… ? dari mana ..?
“ dari swalayan kak. Oh ya , ni Aci temanku. Teman SMA dulu. Aku numpang ganti baju ya… “ tanpa mempedulikan aku , April mambawa tubuhnya yang tambun bersama kantung belanjanya. Lalu menghilang ke sebuah ruangan. Perempuan itu menatapku. Aku hanya bisa tersenyum. Sedikit kikuk.
“ kamu teman SMA nya ? “
“ Iya kak. Kami sudah lima tahun lho nggak ketemu”
“ kok gitu , emang kamu tinggal dimana  ? “
“Aku kerja di Puncak , Bogor. Baru dua bulan ini aku pulang kampung. Nggak nyangka bisa ketemu April. Aku jadi punya teman jalan. Soalnya teman yang lain sudah pada pindah “
“ emang dia udah nggak suka ngamuk lagi …?”
Aku kaget , ngamuk ?
“ iya … dulu kan dia sering ngamuk ,  kamu nggak tahu ?”
Tanpa di minta , perempuan itu mulai bercerita. Mungkin mengerti dengan raut kaget dan penasaran yang pasti tidak hilang dari wajahku.
” sebenarnya selulus SMA , April masih baik baik saja. Nah , ketika dia mulai kuliah di … itu lho. Sekolahnya perawat …”
“  AKPER ….? “
“ ho oh … dia di guna guna sama temannya. Perempuan juga. Katanya ….”
Kalimatnya terhenti. Dari kamar tempatnya masuk tadi . April muncul. Dia melenggokkan badannya sebentar , lalu berputar putar ala peragawati.
“ bagus nggak Ci ? “
Yang di tanyanya adalah sepotong kaus coklat tua seharga tiga puluh lima ribu rupiah yang baru saja dibayarnya di toko swalayan. Kaus itu melekat ketat ditubuhnya yang gembur , serupa dengan legging hitam yang memang tadi di pakainya. Walhasil , perutnya yang sama sekali tak langsing plus timbunan lemak di sana sini tampak jelas melekuk lekuk di balik baju ketatnya. Uh , aku mengeluh dalam hati.
***
Kejadian itu sudah seminggu berlalu. Tapi aku sama sekali tak bias melupakannya. Terlintas dalam niatku untuk mencari tahu lewat sepupunya. Tapi itupun belum sempat kulakukan.
Muti Aprillia , aku mengingatnya sebagai gadis yang periang. Meski tidak terlalu akrab , Dia adalah teman ‘seperjuanganku’ karena kami selalu satu sekolah dari SD hingga SMU , kendati beda kelas. Gaya bicaranya ceplas ceplos , apa adanya. Dan yang paling kuingat adalah , dia paling nggak suka di panggil Muti , Mut … Mut …katanya kayak semut lah , marmot lah. Dia selalu meminta di panggil April. Keren katanya. Apalagi kemudian Avril Lavigna muncul dengan “I’m with you” nya yang langsung ngetop. Mulailah April protes kalau namanya ditulis dengan huruf ‘P’.
Dan untuk pertama kalinya , setelah lima tahun , aku bertemu lagi dengannya. Waktu itu , aku sedang break dari tempatku bekerja karena sakitku yang bolak balik kambuh dan memutuskan pulang ke kota kelahiranku. Ketika membuka buka album kenangan SMA , aku bertekad akan melacak keberadaan teman teman lamaku.
Target utamaku adalah April , yang rumahnya paling dekat dan kuharap belum pindah. Tak disangka , begitu mudah aku bertemu dengannya. Tapi nyatanya semua sudah banyak berubah. Dia sekarang seorang perawat Dan telah bersuami. Saat itu dia sedang dalam masa cuti setelah melahirkan anak pertamanya. Tubuhnya yang dulu langsing kini tampak subur. Rambut panjangnya yang dulu hitam berkilau kini di potong pendek ala Demi Moore. Hampir aku tidak mengenalinya. Dia sendiri kaget. Dan yang membuatku tertawa , dia bilang , aku masih kelihatan seperti anak ABG , he…3x. sejak itu beberapa kali kami jalan bareng. Sekedar bernostalgia atau menemaninya yang belakangan kutahu keranjingan belanja. Tak ada yang aneh meski Ku perhatikan memang wataknya ikut berubah sebagaimana perubahan fisiknya. Emosinya cepat naik. Kesenggol orang di supermarket , sewot. kelamaan ngantri di kasir , ngomel. Dan ngomelnya itu lho. Kenceng kenceng banget. Sampai sampai semua orang menoleh pada kami. aku jadi jengah. Tapi mau gimana lagi ? padahal April yang ku kenal dulu sangat periang dan humoris. Yang juga membuatku  heran adalah dia dengan mudah meninggalkan bayinya yang masih merah. Ketika ku utarakan keherananku , dia hanya tertawa sumbang.
Suara Dirly , “sampai ke ujung dunia “ melengking dari HP- ku. April.
“ Aci ? “ suaranya mengandung tangis. Aku kaget
“ assalamu’allaikum April , ada apa ? “
“ aku harus ketemu kamu…“
bahkan dia lupa menjawab salamku
“Ada yang mau aku ceritain. Aku sudah nggak tahan lagi… aku … aku … “ kini isakannya jelas terdengar.
Ku tatap sejenak komputerku yang baru saja loading. Duh …
“Aci …..? “
“ oke … oke … tapi kamu harus tenang ya. Sebentar lagi aku sampe rumahmu ..”
“ jangan terlambat … “ suaranya penuh tekanan. Aku jadi sedikit panic.
“ karena kalau kamu terlambat , mungkin kita nggak akan bertemu lagi …..”
Aku tersentak.

(bersambung, nah siapa aja boleh buat cerita selanjutnya,ok?)

Pages