Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2011

MENGHITUNG BINTANG


Kado kecil bwt Bintang, putra tercinta mb Yully Riswati :


“Jangan terus mendongak ke langit! Nanti sakit lehermu.”
“Aku sedang menghitung bintang.”
Ia tertawa, di raihnya daguku, memaksaku menatapnya.
“Kau tak kan mampu. Biarkan mereka ada di langit tanpa seorangpun tahu jumlahnya. “
“Tidak!” aku berkeras. “Aku akan tetap menghitung bintang ini dan mencoba bicara padanya. Dia akan mendengar!” aku memalingkan wajah, tak ingin melihat raut prihatin dari mata itu.
“Dia katamu? Dia tak kan mendengar. Mana mungkin? Dia sudah membohongimu Luna. Sudah berapa lama dia tak kembali dan sampai berapa lama lagi kau harus menunggunya?”
Aku menggeleng, lelah. Bicara padanya sungguh terasa melelahkan.
“Sudah kubilang, ia akan merasakannya setiap kali aku rindu dan bicara pada bintang…” suaraku lirih, tak berharap ia mendengar karena sudah puluhan kali kalimat itu kulontarkan.
“Luna, kau sungguh naïf. Lupakan dia dan lanjutkan hidupmu!”
Aku terdiam. Kenapa ia tak mau mengerti aku?
“Luna…”
“Pergilah, kau membuatku harus menghitung dari awal.” Aku mendorong bahunya halus. Rainy menatapku lekat. Ada kabut di matanya yang siap luruh. Selalu begitu setiap kali ia melihatku menghitung bintang.
Aku menutup pintu, menguncinya sekaligus ketika tubuh Rainy sudah melewati ambang pintu. Aku kembali ke balkon kamarku, tak peduli malam telah begitu larut. Namun bukankah bintang akan semakin ramai ketika malam kian menua?
Aku tersenyum dan mulai menghitung lagi.
Satu… dua… tiga…
***
“Aku akan segera kembali Luna. Lalu kita akan menghitung bintang bersama.”
“Sungguh?”
Dia mengangguk.
“Aku pergi juga demi dirimu, masa depan kita. Bersabarlah…”
Airmataku mulai luruh, tak pernah terbayang berpisah dengannya. Langitku. Matahariku, Awanku…
“Jika kau merindukanku, bicaralah pada bintang yang paling terang, maka aku akan merasakannya.”
Lalu dia pergi. Hari-hari kuhabiskan bersama canda bintang-bintang yang seperti tak lelah bermunculan dan mengacaukan hitunganku. Hingga waktu berloncatan menjelma hitungan tahun.
“Langit sudah menikahi lagi di negeri seberang. Dia sudah melupakanmu.” Suara Rainy yang selalu tanpa basa-basi menyilet dinding hatiku.
Aku tertawa. Kabar itu tak dapat dipercaya. Langit tak begitu. Tak kan pernah membiarkan awan menjelma dalam hatiku, lalu berubah rinai. Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian dia tetap tak datang, aku masih setia menghitung bintang.
Dan kini, sudah berapa lamakah waktu tak mengembalikan sosoknya padaku? Aku beralih ke hadapan cermin, menatapnya lekat dan pada akhirnya tertunduk oleh sorot mataku sendiri. Aku mendesah, memutuskan untuk menyingkirkan seluruh cermin dan kalender dari kamarku. Tak perlu menghitung waktu dan melihat garis usia karena aku yakin dia akan datang.
“Luna, ada tamu!” suara Rainy di luar pintu terdengar bergetar. Aku mengerutkan kening. Tamu untukku tengah malam begini?
Seraut wajah tampan menungguku di ruang tamu. Aku tertegun. Langit!
“Kau pulang?”
Suaraku bergetar. Persis suara Rainy tadi. Sosok ini jugakah penyebabnya? Aku mengerjabkan mata menatap wajah itu. teduh matanya yang serupa telaga, rambut ombaknya yang hitam lebat, tubuh tinggi tegapnya… tanpa sadar, aku beringsut menghampirinya. Betapa ingin aku memeluk dia, langitku!
“Maaf Ibu Luna, saya bukan Langit, tapi saya putranya. Saya kemari menyampaikan pesan Ayah.”
Aku tertegun. Sayup kudengar sehela nafas yang kuyakini milik Rainy dari balik tembok. Bukan tangis, tapi suara itu menyadarkanku untuk mencerna kata-kata yang dilontarkan pemuda di hadapanku. Perlahan, aku menghela tubuhku ke hadapan cermin besar di sudut ruang, menekuri sesosok tubuh renta dengan kulit keriput dan rambut yang sebagian memutih.
 “Tetaplah mengitung bintang sampai aku kembali Luna. Dan jika aku tak juga kembali biarkan bintang lain datang karena kaulah ratu mereka, Luna, rembulanku…”

Bandar Lampung, 19 april 2011
Terinspirasi dari lagu “Bicara Pada Bintang- nya Rossa, hehehe…”



»»  READMORE...

Rabu, 13 April 2011

HITAM PUTIH

Putih, bersih, suci.
Gaun pengantin putih itu tergeletak diranjangku. Menerorku dengan kesuciannya.
Aku tak pantas memakainya. Bukan aku. Bukan orang orang hitam sepertiku. Karena warna yang tercipta akan sangat kontras, tak pantas.  Bagaimana mungkin dia, sang malaikat yang menguarkan aura putih itu memintaku mengenakan gaun yang hanya pantas dipakai oleh bidadari saja. Padahal hitamku jelas terlukis. Ia tahu.
“aku pahami jalan hidupmu sebagai garis takdir. Hitam itu hanya warna. Izinkan aku berusaha mengembalikan dirimu kembali bidadari, putih meski sedikit demi sedikit…”
Itu yang dikatakannya, mengapa tekadnya begitu kuat? Tak takutkah ia jika putihnya ternoda? Dia tak kan mendapatkan apapun dariku selain rasa kecewa. Bahkan mungkin… kehancuran.
Aku membuka sedikit pintu kamar, mengintip kesibukan dari celah pintu. Orang orang lalu lalang mempersiapkan pernikahanku. Ohh…pernikahanku tinggal menunggu hitungan jam saja. Bagaimana ini?
Pintu kamarku diketuk. Ibu masuk dan menatapku dalam dalam.
“jangan khawatirkan apapun. Bukankah dia telah menerimamu apa adanya? Dia tahu semua tentangmu dan jika ia masih ingin menikahimu, itu adalah karunia dari Allah. Hadiah atas pertobatanmu..”
ibu mengelus kepalaku pelan. Penuh sayang. Namun sedetikpun aku tak berani menatap mata beningnya. Bu, semoga tidak kau lihat luka yang masih harus kusembunyikan. Luka yang menggores hampir seluruh tubuh hitamku. Tak mungkin kubuka karena itu akan membuatmu berduka.
“tidurlah. Besok pagi pagi kau harus sudah bangun. Lihat, gaun itu menantimu…”
Ia tersenyum sambil menunjuk gaun putih itu. hatiku berdesir.
Putih.
Ohh… betapa takutnya aku akan warna itu. karena ia ‘musuhku’
Ibu berlalu, menutup pintu kamar, meninggalkanku dalam senyap. Kamar ini, esok akan menjadi kamar pengantin. Nuansa putih - ohh…lagi lagi putih – yang mendominasi dekorasi membuatku mulai gemetar.
Aku menerima pinangan laki laki itu karena tahu betapa ingin Ibu melihatku menikah. Laki laki putih itu, mungkin adalah pilihan terbaik bagi gadis manapun. Kecuali aku. Aku tak kuasa menolak saat melihat mata ibu yang memohon. Padahal hatiku gamang. Ia putih. Aku hitam. Bagaimana mungkin bisa disatukan?
Dan kini, aku berada dipersimpangan. Masih ada beberapa jam lagi untuk membuat keputusan. Menikahinya berarti menghancurkan hidupnya. Membatalkan pernikahan sama saja mnghancurkan hati Ibu. Mana yang harus kupilih?
Aku memejamkan mata. Namun siluet itu kembali membayang. Obat obatan laknat, jarum suntik, tes darah..
HIV
Aku tersentak. Bagaimana mungkin aku melakukan ini? Bagaiamana mungkin aku menodainya putihnya dengan hitamku? membiarkannya berubah warna menjadi kelabu. Warna yang suram, tak hidup, tak enak dipandang mata. Bahkan bagiku ia bukan warna.
Dan jika nantinya ia menyiramiku, berarti tunas yang akan tumbuhpun semua akan kelabu, layu…
Itu tak boleh terjadi…
Dan sejam kemudian, disinilah aku. Mengemas gerimis sendiri. Mencoba berdamai dengan hati. Tak kan kubiarkan putih malaikat itu ternoda oleh hitamku.
Ibu, maafkan aku. Kuharap, suatu saat nanti kau akan tahu dengan caramu. Kau pasti mengerti.

»»  READMORE...

SENYUM YANG MEMERAH

Oleh Yazmin Aisyah


“permisi…!!”
Jrengg…!!
“maaf ya…!! “ sebuah suara berteriak dari dalam rumah.
Aku menghela nafas lelah, lalu menyeret kakiku yang mulai pegal. Terlalu banyak penolakan, bahkan sebelum aku sempat memetik senar pertama, suara suara ketus sudah mengusirku. Sudah setengah harian aku berkeliling complex perumahan  ini, tapi yang kudapat tak lebih dari enam lembar seribuan dan lima koin limaratusan. Delapan ribu lima ratus. Apa yang bisa kudapat dengan uang itu? mana mungkin cukup menyumpal empat mulut yang menantiku dirumah.
Sebuah gerbang terbuka menarik perhatianku. Sebenarnya, tubuhku sudah sangat lemah. Sejak pagi, hanya segelas teh tawar dan sepotong singkong rebus sebagai pengganjal perut. Namun ketika wajah istri dan ketiga anakku membayang, semangatku kembali menyala.
“permisi…!!”
Tak ada sahutan. Aku gembira, mungkin penghuni rumah ini bersedia mendengarkan suaraku.
Dari pintu ke pintu ku coba tawarkan nama, demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya…
Lagu ini meyayat hati. Lagu milik penyanyi kesayanganku, Ebiet G.Ade. Namun, sampai selesai ku nyanyikan, tak ada suara apapun dari dalam rumah, juga tak seorangpun muncul untuk melemparkan uang. Ah, sesungguhnya aku malu setiap kali menerima uang bak pengemis, tapi mencari pekerjaan di kota seramai ini bukan hal mudah.
Lagu kedua kunyanyikan. Masih milik Ebiet G. Ade, Camelia. Namun sebelum selesai, mataku menangkap sebentuk barang di atas meja tamu. Sebuah handphone yang kelihatannya mahal.
kalau kuambil saja barang itu, aku tak perlu mengamen lagi beberapa hari. Entah darimana datangnya, fikiran kotor itu menyelinap dibenakku. Beranikah? Aku celingukan, tapi rumah besar ini benar benar senyap. Bahkan sekedar suara televisipun tak terdengar.
Ragu ragu, aku melangkah melewati ambang pintu. Wajah anak istriku membayang. Perut mereka yang lapar, wajah wajah tak berdosa yang selalu berhias senyum tulus. Tiba tiba aku tersadar. Allah, jika kuberi mereka makanan haram, bagaimana aku menjawab pertanyaanMu di Yaumil Akhir kelak?
Aku mengusap peluh yang membanjiri kening sambil beristigfar. Gegas, aku melangkah keluar pagar, tak peduli pada benda mungil yang tergeletak pasrah di atas meja seakan menggodaku.
“maliiiiiiinnggg…!!”
Tiba tiba, entah darimana datangnya, teriakan dan suara derap langkah puluhan manusia sudah berada di dekatku. Aku kaget, dan lebih kaget lagi ketika lelaki pertama yang sampai ketempat ini langsung menghampiriku, sementara di belakangnya tampak puluhan orang mengejar. Tanpa berkata sepatahpun lelaki itu menjejalkan sebuah bungkusan ketanganku, lalu berlari dan menghilang diujung jalan.
Derap kaki itu kian mendekat..
“itu dia malingnya!!”
Aku bengong
“hajaarrr…!!”
Bag bug bag bug…!!
Wajah anak istriku membayang, tersenyum. Namun semakin lama, senyumnya makin merah, lalu hitam.

Bandar Lampung, 11 januari 2010
The story ‘about the tragic people  often happens
»»  READMORE...

Selasa, 12 April 2011

(Bukan) Karena Kau Cantik

(bukan) KARENA KAU CANTIK
Oleh Yazmin Aisyah

“kau begitu sempurna Vi, bagaimana mungkin ada lelaki yang menolak dijodohkan denganmu?”

“nyatanya dia menolakku Ra. Katanya aku terlalu cantik”

Aku terdiam. Aneh sekali. Apakah cantik itu salah? Diluar sana ratusan gadis melakukan berbagai perawatan, berlomba lomba ke salon dan spa bahkan operasi plastik hanya untuk satu tujuan. Cantik. Bukankah gadis cantik itu dambaan setiap lelaki? Kalau lelaki itu dijodohkan denganku, pantaslah dia menolak, karena aku…

“padahal aku sungguh sungguh menginginkannya Ra. Dia memiliki semua yang dinginkan perempuan untuk jadi suami. Mapan, sholeh, ah… aku sungguh menginginkannya…”

“tenanglah Vi, akan datang jodohmu kelak. Pada saat yang sudah Dia atur dan insyaallah jauh lebih baik darinya…”
Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku.

“entahlah…” suara itu melamun, “entah apakah aku masih punya muka datang ke kantor. Seisi kantor sudah tahu kalau orangtua kita dan orangtuanya sudah menjodohkan aku dengan dia sejak kecil, tapi dia…” Vina berhenti sejenak, “ menolak…”



Percakapan itu masih bergaung di otakku. Vina hanya setahun lebih tua dariku. Ia cantik. Garis garis wajahnya begitu sempurna. Hidung bangir, mata bulat dan alis tebal yang menaunginya, juga dagu membelah yang pasti sangat sedap dipandang mata. Jemariku pernah merabanya, sekaligus memastikan betapa halus kulit wajah itu. belum terhitung tubuhnya yang tinggi semampai, suara halus yang tak pernah berkata kasar. Sebagai wanita, aku yakin dia nyaris sempurna. Sungguh tak masuk akal ada lelaki yang menolak dijodohkan dengannya.

“mau apalagi kamu datang? kamu sudah mempermalukan putri saya…”

Sayup sayup aku mendengar suara Ayah datang dari ruang tamu.

“saya minta maaf pak, tapi saya punya alasan menolak dijodohkan dengan Vina…”

Oh, lelaki itu yang datang. Mau apa dia? Aku menajamkan pendengaran. Menguping sungguh bukan tindakan terpuji, tapi aku harus tahu apa yang membuat lelaki itu menolak kakakku.

“sudah sudah… saya tidak butuh alasanmu. Sebaiknya kamu segera pergi sebelum kesabaran saya habis…”

“tapi saya kesini untuk melamar putri bapak…”

“apa maksudmu? Kamu sudah menolaknya! Jangan mempermainkan keluarga kami…”

Suara Ayah berang. Aku juga ikut gusar, bahkan nyaris berlari keruang tamu. Sudut hatiku masih berbisik, hati hati Ra, jangan sampai kau jatuh

“bukan Vina…”

“lalu?”

“Fara…”

Langkahku terhenti. Kenapa dia menyebut namaku?
“saya ingin melamar Fara…”

Aku tertegun. Didepan sana, Ayah mungkin lebih kaget daripada aku, tersirat dari suaranya yang tiba tiba hilang.

“saya menginginkan calon istri yang masih suci hati dan penglihatannya, terlindung dari noda dunia, dan itu, maaf, bukan Vina. Tapi Fara, justru karena ia tak bisa melihat…”

Bandar Lampung, 7 januari 2011
»»  READMORE...

Bunga Untuk Valentine

BUNGA UNTUK VALENTINE
Oleh Yazmin Aisyah

“Aku tidak suka kau begini Val! Kau jadi terlihat aneh, primitif!”

Gadis itu menatapku sejenak, lalu membuang pandang ke pohon - pohon pinus yang berjejer rapi di seberang halaman rumah.

“Maaf Tim, this is my choice. Terserah kau suka atau tidak.”

Suaranya sehalus beledu. Tapi itu justru membuatku makin marah. Keseluruhan penampilannya membuat emosiku kian memuncak. Baju panjang tanpa model dan kain lebar yang menutupi rambut coklatnya yang ikal dan indah. Val lebih mirip ibu – ibu bangsa barbar itu daripada gadis Amerika berusia 19 tahun.

“Setan apa yang merasuki dirimu Val? Bukankah dulu kau sangat membenci semua tentang islam?”

“Allah telah membuka pintu hidayah untukku Tim. Tangan-Nya begitu lembut menuntunku masuk dalam pelukan-Nya”

Shit! Sungguh tidak masuk akal. Val, gadis yang kucintai setengah mati, kini membelot dan menyudahi hubungan kami hanya karena ia muslim kini. Padahal telah begitu banyak waktu kami habiskan bersama.

“Dan satu lagi Tim, aku tidak bisa ikut merayakan valentine bersamamu besok”

“Ada yang lain?” tanyaku curiga.

Val menggeleng dan tersenyum tipis, “Tidak. Hanya saja itu tidak ada dalam ajaran agamaku sekarang.”

Prang!

Val tersentak, sontak ia bangkit dari kursi yang didudukinya. Wajahnya pucat. Aku tak peduli pecahan gelas yang kubanting tadi mencelat kemana – mana, salah satunya mengenai pergelangan tangannya, menciptakan segaris luka yang memercikkan darah.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau tetap pacarku dan besok kita tetap merayakan valentine bersama. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Dan ingat, jangan gunakan kain jelek itu!”

Val berdiri dengan kaki gemetar. Matanya berkaca – kaca. Aku pasti telah membuatnya takut. Ini pertama kali aku berlaku kasar padanya.

“Dan ingat Val, malam – malam yang telah kita habiskan bersama. Kau fikir Tuhanmu itu akan mengampunimu?” aku tersenyum mengejek.
***

Maafkan aku Tim, aku tetap tidak bisa. Aku berusaha taat dan mengikuti agama yang kupilih meski harus belajar dari awal, merangkak dan tertatih. Sesungguhnya, betapa ingin aku menjalani semua bersamamu, tapi agamaku tak pernah memaksa umat lain untuk ikut pada ajarannya.
Dan please, namaku kini Aisyah, bukan Valentine lagi. Dan aku pun tak kan pernah lagi merayakannya, sebagaimana agamaku mengajari untuk tidak ikut perayaan umat lain.


Aku meremas kertas itu gusar. Rangkaian bunga chrysant, rose dan jasmine yang kubawa untuknya kubanting ke lantai dengan sepenuh emosi. Val tak kutemui di rumahnya. Cuma ada sepi menyambutku bersama surat yang ia tinggalkan di atas meja tamu. Val, Aisyah…! Persetan! Aku harus mencarinya dan memaksanya merayakan valentine bersama. Apa kata teman – teman jika tahu kami berpisah setelah mereka tahu selama ini kami begitu serasi? Dan februari tanpa valentine? Jangan harap Val…

Ciiiitttt… prang!

Porche kuning terang itu melarikan diri setelah membuat tubuhku melayang sekian meter. Ada cairan amis dan lengket meleleh dari pelipis. Pandangan mataku mulai kabur, namun masih sempat kulihat sesosok tubuh semampai berlari mendapatiku.

“Timothy, bertahanlah! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!"

Ada air menetesi wajahku. Airmatanya kah? Apakah itu berarti dia masih mencintaiku? Tapi mengapa ia tak mau merayakan valentine bersamaku lagi?

Valentine, Aisyah, siapapun namamu kini, yakinkan aku mengapa islam tak merayakan valentine, maka aku takkan memaksamu melakukannya lagi.


499 kata tidak termasuk judul dan nama penulis
Bandar Lampung, 08 februari 2011
Say no to valentine yuk!
»»  READMORE...
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2011

MENGHITUNG BINTANG


Kado kecil bwt Bintang, putra tercinta mb Yully Riswati :


“Jangan terus mendongak ke langit! Nanti sakit lehermu.”
“Aku sedang menghitung bintang.”
Ia tertawa, di raihnya daguku, memaksaku menatapnya.
“Kau tak kan mampu. Biarkan mereka ada di langit tanpa seorangpun tahu jumlahnya. “
“Tidak!” aku berkeras. “Aku akan tetap menghitung bintang ini dan mencoba bicara padanya. Dia akan mendengar!” aku memalingkan wajah, tak ingin melihat raut prihatin dari mata itu.
“Dia katamu? Dia tak kan mendengar. Mana mungkin? Dia sudah membohongimu Luna. Sudah berapa lama dia tak kembali dan sampai berapa lama lagi kau harus menunggunya?”
Aku menggeleng, lelah. Bicara padanya sungguh terasa melelahkan.
“Sudah kubilang, ia akan merasakannya setiap kali aku rindu dan bicara pada bintang…” suaraku lirih, tak berharap ia mendengar karena sudah puluhan kali kalimat itu kulontarkan.
“Luna, kau sungguh naïf. Lupakan dia dan lanjutkan hidupmu!”
Aku terdiam. Kenapa ia tak mau mengerti aku?
“Luna…”
“Pergilah, kau membuatku harus menghitung dari awal.” Aku mendorong bahunya halus. Rainy menatapku lekat. Ada kabut di matanya yang siap luruh. Selalu begitu setiap kali ia melihatku menghitung bintang.
Aku menutup pintu, menguncinya sekaligus ketika tubuh Rainy sudah melewati ambang pintu. Aku kembali ke balkon kamarku, tak peduli malam telah begitu larut. Namun bukankah bintang akan semakin ramai ketika malam kian menua?
Aku tersenyum dan mulai menghitung lagi.
Satu… dua… tiga…
***
“Aku akan segera kembali Luna. Lalu kita akan menghitung bintang bersama.”
“Sungguh?”
Dia mengangguk.
“Aku pergi juga demi dirimu, masa depan kita. Bersabarlah…”
Airmataku mulai luruh, tak pernah terbayang berpisah dengannya. Langitku. Matahariku, Awanku…
“Jika kau merindukanku, bicaralah pada bintang yang paling terang, maka aku akan merasakannya.”
Lalu dia pergi. Hari-hari kuhabiskan bersama canda bintang-bintang yang seperti tak lelah bermunculan dan mengacaukan hitunganku. Hingga waktu berloncatan menjelma hitungan tahun.
“Langit sudah menikahi lagi di negeri seberang. Dia sudah melupakanmu.” Suara Rainy yang selalu tanpa basa-basi menyilet dinding hatiku.
Aku tertawa. Kabar itu tak dapat dipercaya. Langit tak begitu. Tak kan pernah membiarkan awan menjelma dalam hatiku, lalu berubah rinai. Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian dia tetap tak datang, aku masih setia menghitung bintang.
Dan kini, sudah berapa lamakah waktu tak mengembalikan sosoknya padaku? Aku beralih ke hadapan cermin, menatapnya lekat dan pada akhirnya tertunduk oleh sorot mataku sendiri. Aku mendesah, memutuskan untuk menyingkirkan seluruh cermin dan kalender dari kamarku. Tak perlu menghitung waktu dan melihat garis usia karena aku yakin dia akan datang.
“Luna, ada tamu!” suara Rainy di luar pintu terdengar bergetar. Aku mengerutkan kening. Tamu untukku tengah malam begini?
Seraut wajah tampan menungguku di ruang tamu. Aku tertegun. Langit!
“Kau pulang?”
Suaraku bergetar. Persis suara Rainy tadi. Sosok ini jugakah penyebabnya? Aku mengerjabkan mata menatap wajah itu. teduh matanya yang serupa telaga, rambut ombaknya yang hitam lebat, tubuh tinggi tegapnya… tanpa sadar, aku beringsut menghampirinya. Betapa ingin aku memeluk dia, langitku!
“Maaf Ibu Luna, saya bukan Langit, tapi saya putranya. Saya kemari menyampaikan pesan Ayah.”
Aku tertegun. Sayup kudengar sehela nafas yang kuyakini milik Rainy dari balik tembok. Bukan tangis, tapi suara itu menyadarkanku untuk mencerna kata-kata yang dilontarkan pemuda di hadapanku. Perlahan, aku menghela tubuhku ke hadapan cermin besar di sudut ruang, menekuri sesosok tubuh renta dengan kulit keriput dan rambut yang sebagian memutih.
 “Tetaplah mengitung bintang sampai aku kembali Luna. Dan jika aku tak juga kembali biarkan bintang lain datang karena kaulah ratu mereka, Luna, rembulanku…”

Bandar Lampung, 19 april 2011
Terinspirasi dari lagu “Bicara Pada Bintang- nya Rossa, hehehe…”



Rabu, 13 April 2011

HITAM PUTIH

Putih, bersih, suci.
Gaun pengantin putih itu tergeletak diranjangku. Menerorku dengan kesuciannya.
Aku tak pantas memakainya. Bukan aku. Bukan orang orang hitam sepertiku. Karena warna yang tercipta akan sangat kontras, tak pantas.  Bagaimana mungkin dia, sang malaikat yang menguarkan aura putih itu memintaku mengenakan gaun yang hanya pantas dipakai oleh bidadari saja. Padahal hitamku jelas terlukis. Ia tahu.
“aku pahami jalan hidupmu sebagai garis takdir. Hitam itu hanya warna. Izinkan aku berusaha mengembalikan dirimu kembali bidadari, putih meski sedikit demi sedikit…”
Itu yang dikatakannya, mengapa tekadnya begitu kuat? Tak takutkah ia jika putihnya ternoda? Dia tak kan mendapatkan apapun dariku selain rasa kecewa. Bahkan mungkin… kehancuran.
Aku membuka sedikit pintu kamar, mengintip kesibukan dari celah pintu. Orang orang lalu lalang mempersiapkan pernikahanku. Ohh…pernikahanku tinggal menunggu hitungan jam saja. Bagaimana ini?
Pintu kamarku diketuk. Ibu masuk dan menatapku dalam dalam.
“jangan khawatirkan apapun. Bukankah dia telah menerimamu apa adanya? Dia tahu semua tentangmu dan jika ia masih ingin menikahimu, itu adalah karunia dari Allah. Hadiah atas pertobatanmu..”
ibu mengelus kepalaku pelan. Penuh sayang. Namun sedetikpun aku tak berani menatap mata beningnya. Bu, semoga tidak kau lihat luka yang masih harus kusembunyikan. Luka yang menggores hampir seluruh tubuh hitamku. Tak mungkin kubuka karena itu akan membuatmu berduka.
“tidurlah. Besok pagi pagi kau harus sudah bangun. Lihat, gaun itu menantimu…”
Ia tersenyum sambil menunjuk gaun putih itu. hatiku berdesir.
Putih.
Ohh… betapa takutnya aku akan warna itu. karena ia ‘musuhku’
Ibu berlalu, menutup pintu kamar, meninggalkanku dalam senyap. Kamar ini, esok akan menjadi kamar pengantin. Nuansa putih - ohh…lagi lagi putih – yang mendominasi dekorasi membuatku mulai gemetar.
Aku menerima pinangan laki laki itu karena tahu betapa ingin Ibu melihatku menikah. Laki laki putih itu, mungkin adalah pilihan terbaik bagi gadis manapun. Kecuali aku. Aku tak kuasa menolak saat melihat mata ibu yang memohon. Padahal hatiku gamang. Ia putih. Aku hitam. Bagaimana mungkin bisa disatukan?
Dan kini, aku berada dipersimpangan. Masih ada beberapa jam lagi untuk membuat keputusan. Menikahinya berarti menghancurkan hidupnya. Membatalkan pernikahan sama saja mnghancurkan hati Ibu. Mana yang harus kupilih?
Aku memejamkan mata. Namun siluet itu kembali membayang. Obat obatan laknat, jarum suntik, tes darah..
HIV
Aku tersentak. Bagaimana mungkin aku melakukan ini? Bagaiamana mungkin aku menodainya putihnya dengan hitamku? membiarkannya berubah warna menjadi kelabu. Warna yang suram, tak hidup, tak enak dipandang mata. Bahkan bagiku ia bukan warna.
Dan jika nantinya ia menyiramiku, berarti tunas yang akan tumbuhpun semua akan kelabu, layu…
Itu tak boleh terjadi…
Dan sejam kemudian, disinilah aku. Mengemas gerimis sendiri. Mencoba berdamai dengan hati. Tak kan kubiarkan putih malaikat itu ternoda oleh hitamku.
Ibu, maafkan aku. Kuharap, suatu saat nanti kau akan tahu dengan caramu. Kau pasti mengerti.

SENYUM YANG MEMERAH

Oleh Yazmin Aisyah


“permisi…!!”
Jrengg…!!
“maaf ya…!! “ sebuah suara berteriak dari dalam rumah.
Aku menghela nafas lelah, lalu menyeret kakiku yang mulai pegal. Terlalu banyak penolakan, bahkan sebelum aku sempat memetik senar pertama, suara suara ketus sudah mengusirku. Sudah setengah harian aku berkeliling complex perumahan  ini, tapi yang kudapat tak lebih dari enam lembar seribuan dan lima koin limaratusan. Delapan ribu lima ratus. Apa yang bisa kudapat dengan uang itu? mana mungkin cukup menyumpal empat mulut yang menantiku dirumah.
Sebuah gerbang terbuka menarik perhatianku. Sebenarnya, tubuhku sudah sangat lemah. Sejak pagi, hanya segelas teh tawar dan sepotong singkong rebus sebagai pengganjal perut. Namun ketika wajah istri dan ketiga anakku membayang, semangatku kembali menyala.
“permisi…!!”
Tak ada sahutan. Aku gembira, mungkin penghuni rumah ini bersedia mendengarkan suaraku.
Dari pintu ke pintu ku coba tawarkan nama, demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya…
Lagu ini meyayat hati. Lagu milik penyanyi kesayanganku, Ebiet G.Ade. Namun, sampai selesai ku nyanyikan, tak ada suara apapun dari dalam rumah, juga tak seorangpun muncul untuk melemparkan uang. Ah, sesungguhnya aku malu setiap kali menerima uang bak pengemis, tapi mencari pekerjaan di kota seramai ini bukan hal mudah.
Lagu kedua kunyanyikan. Masih milik Ebiet G. Ade, Camelia. Namun sebelum selesai, mataku menangkap sebentuk barang di atas meja tamu. Sebuah handphone yang kelihatannya mahal.
kalau kuambil saja barang itu, aku tak perlu mengamen lagi beberapa hari. Entah darimana datangnya, fikiran kotor itu menyelinap dibenakku. Beranikah? Aku celingukan, tapi rumah besar ini benar benar senyap. Bahkan sekedar suara televisipun tak terdengar.
Ragu ragu, aku melangkah melewati ambang pintu. Wajah anak istriku membayang. Perut mereka yang lapar, wajah wajah tak berdosa yang selalu berhias senyum tulus. Tiba tiba aku tersadar. Allah, jika kuberi mereka makanan haram, bagaimana aku menjawab pertanyaanMu di Yaumil Akhir kelak?
Aku mengusap peluh yang membanjiri kening sambil beristigfar. Gegas, aku melangkah keluar pagar, tak peduli pada benda mungil yang tergeletak pasrah di atas meja seakan menggodaku.
“maliiiiiiinnggg…!!”
Tiba tiba, entah darimana datangnya, teriakan dan suara derap langkah puluhan manusia sudah berada di dekatku. Aku kaget, dan lebih kaget lagi ketika lelaki pertama yang sampai ketempat ini langsung menghampiriku, sementara di belakangnya tampak puluhan orang mengejar. Tanpa berkata sepatahpun lelaki itu menjejalkan sebuah bungkusan ketanganku, lalu berlari dan menghilang diujung jalan.
Derap kaki itu kian mendekat..
“itu dia malingnya!!”
Aku bengong
“hajaarrr…!!”
Bag bug bag bug…!!
Wajah anak istriku membayang, tersenyum. Namun semakin lama, senyumnya makin merah, lalu hitam.

Bandar Lampung, 11 januari 2010
The story ‘about the tragic people  often happens

Selasa, 12 April 2011

(Bukan) Karena Kau Cantik

(bukan) KARENA KAU CANTIK
Oleh Yazmin Aisyah

“kau begitu sempurna Vi, bagaimana mungkin ada lelaki yang menolak dijodohkan denganmu?”

“nyatanya dia menolakku Ra. Katanya aku terlalu cantik”

Aku terdiam. Aneh sekali. Apakah cantik itu salah? Diluar sana ratusan gadis melakukan berbagai perawatan, berlomba lomba ke salon dan spa bahkan operasi plastik hanya untuk satu tujuan. Cantik. Bukankah gadis cantik itu dambaan setiap lelaki? Kalau lelaki itu dijodohkan denganku, pantaslah dia menolak, karena aku…

“padahal aku sungguh sungguh menginginkannya Ra. Dia memiliki semua yang dinginkan perempuan untuk jadi suami. Mapan, sholeh, ah… aku sungguh menginginkannya…”

“tenanglah Vi, akan datang jodohmu kelak. Pada saat yang sudah Dia atur dan insyaallah jauh lebih baik darinya…”
Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku.

“entahlah…” suara itu melamun, “entah apakah aku masih punya muka datang ke kantor. Seisi kantor sudah tahu kalau orangtua kita dan orangtuanya sudah menjodohkan aku dengan dia sejak kecil, tapi dia…” Vina berhenti sejenak, “ menolak…”



Percakapan itu masih bergaung di otakku. Vina hanya setahun lebih tua dariku. Ia cantik. Garis garis wajahnya begitu sempurna. Hidung bangir, mata bulat dan alis tebal yang menaunginya, juga dagu membelah yang pasti sangat sedap dipandang mata. Jemariku pernah merabanya, sekaligus memastikan betapa halus kulit wajah itu. belum terhitung tubuhnya yang tinggi semampai, suara halus yang tak pernah berkata kasar. Sebagai wanita, aku yakin dia nyaris sempurna. Sungguh tak masuk akal ada lelaki yang menolak dijodohkan dengannya.

“mau apalagi kamu datang? kamu sudah mempermalukan putri saya…”

Sayup sayup aku mendengar suara Ayah datang dari ruang tamu.

“saya minta maaf pak, tapi saya punya alasan menolak dijodohkan dengan Vina…”

Oh, lelaki itu yang datang. Mau apa dia? Aku menajamkan pendengaran. Menguping sungguh bukan tindakan terpuji, tapi aku harus tahu apa yang membuat lelaki itu menolak kakakku.

“sudah sudah… saya tidak butuh alasanmu. Sebaiknya kamu segera pergi sebelum kesabaran saya habis…”

“tapi saya kesini untuk melamar putri bapak…”

“apa maksudmu? Kamu sudah menolaknya! Jangan mempermainkan keluarga kami…”

Suara Ayah berang. Aku juga ikut gusar, bahkan nyaris berlari keruang tamu. Sudut hatiku masih berbisik, hati hati Ra, jangan sampai kau jatuh

“bukan Vina…”

“lalu?”

“Fara…”

Langkahku terhenti. Kenapa dia menyebut namaku?
“saya ingin melamar Fara…”

Aku tertegun. Didepan sana, Ayah mungkin lebih kaget daripada aku, tersirat dari suaranya yang tiba tiba hilang.

“saya menginginkan calon istri yang masih suci hati dan penglihatannya, terlindung dari noda dunia, dan itu, maaf, bukan Vina. Tapi Fara, justru karena ia tak bisa melihat…”

Bandar Lampung, 7 januari 2011

Bunga Untuk Valentine

BUNGA UNTUK VALENTINE
Oleh Yazmin Aisyah

“Aku tidak suka kau begini Val! Kau jadi terlihat aneh, primitif!”

Gadis itu menatapku sejenak, lalu membuang pandang ke pohon - pohon pinus yang berjejer rapi di seberang halaman rumah.

“Maaf Tim, this is my choice. Terserah kau suka atau tidak.”

Suaranya sehalus beledu. Tapi itu justru membuatku makin marah. Keseluruhan penampilannya membuat emosiku kian memuncak. Baju panjang tanpa model dan kain lebar yang menutupi rambut coklatnya yang ikal dan indah. Val lebih mirip ibu – ibu bangsa barbar itu daripada gadis Amerika berusia 19 tahun.

“Setan apa yang merasuki dirimu Val? Bukankah dulu kau sangat membenci semua tentang islam?”

“Allah telah membuka pintu hidayah untukku Tim. Tangan-Nya begitu lembut menuntunku masuk dalam pelukan-Nya”

Shit! Sungguh tidak masuk akal. Val, gadis yang kucintai setengah mati, kini membelot dan menyudahi hubungan kami hanya karena ia muslim kini. Padahal telah begitu banyak waktu kami habiskan bersama.

“Dan satu lagi Tim, aku tidak bisa ikut merayakan valentine bersamamu besok”

“Ada yang lain?” tanyaku curiga.

Val menggeleng dan tersenyum tipis, “Tidak. Hanya saja itu tidak ada dalam ajaran agamaku sekarang.”

Prang!

Val tersentak, sontak ia bangkit dari kursi yang didudukinya. Wajahnya pucat. Aku tak peduli pecahan gelas yang kubanting tadi mencelat kemana – mana, salah satunya mengenai pergelangan tangannya, menciptakan segaris luka yang memercikkan darah.

“Pokoknya aku tidak mau tahu! Kau tetap pacarku dan besok kita tetap merayakan valentine bersama. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam. Dan ingat, jangan gunakan kain jelek itu!”

Val berdiri dengan kaki gemetar. Matanya berkaca – kaca. Aku pasti telah membuatnya takut. Ini pertama kali aku berlaku kasar padanya.

“Dan ingat Val, malam – malam yang telah kita habiskan bersama. Kau fikir Tuhanmu itu akan mengampunimu?” aku tersenyum mengejek.
***

Maafkan aku Tim, aku tetap tidak bisa. Aku berusaha taat dan mengikuti agama yang kupilih meski harus belajar dari awal, merangkak dan tertatih. Sesungguhnya, betapa ingin aku menjalani semua bersamamu, tapi agamaku tak pernah memaksa umat lain untuk ikut pada ajarannya.
Dan please, namaku kini Aisyah, bukan Valentine lagi. Dan aku pun tak kan pernah lagi merayakannya, sebagaimana agamaku mengajari untuk tidak ikut perayaan umat lain.


Aku meremas kertas itu gusar. Rangkaian bunga chrysant, rose dan jasmine yang kubawa untuknya kubanting ke lantai dengan sepenuh emosi. Val tak kutemui di rumahnya. Cuma ada sepi menyambutku bersama surat yang ia tinggalkan di atas meja tamu. Val, Aisyah…! Persetan! Aku harus mencarinya dan memaksanya merayakan valentine bersama. Apa kata teman – teman jika tahu kami berpisah setelah mereka tahu selama ini kami begitu serasi? Dan februari tanpa valentine? Jangan harap Val…

Ciiiitttt… prang!

Porche kuning terang itu melarikan diri setelah membuat tubuhku melayang sekian meter. Ada cairan amis dan lengket meleleh dari pelipis. Pandangan mataku mulai kabur, namun masih sempat kulihat sesosok tubuh semampai berlari mendapatiku.

“Timothy, bertahanlah! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!"

Ada air menetesi wajahku. Airmatanya kah? Apakah itu berarti dia masih mencintaiku? Tapi mengapa ia tak mau merayakan valentine bersamaku lagi?

Valentine, Aisyah, siapapun namamu kini, yakinkan aku mengapa islam tak merayakan valentine, maka aku takkan memaksamu melakukannya lagi.


499 kata tidak termasuk judul dan nama penulis
Bandar Lampung, 08 februari 2011
Say no to valentine yuk!

Pages